Abdus Salam dan Rahasia Mikrokosmos Quantum (Bag. 2)




Oleh Dr. Yulduz N. Khaliulin (Moscow)

Rahasia Mikrokosmos Quantum
Ketika pada tahun 1946 Abdus Salam, pemuda berusia duapuluh tahun dari sebuah desa Punjab di pinggiran Kemaharajaan Inggris tiba di kota London yang porak poranda, dalam rangka mencari ‘kebenaran ilmiah,’ seluruh Eropa berada dalam keadaan puing-puing setelah Perang Dunia Kedua yang dahsyat itu. Perang ini tidak ada padanannya dalam sejarah kemanusiaan. Tak lama kemudian merebak ‘Perang Dingin’ di antara blok Barat dan Timur. Para ahli fisika dari kedua blok itu terseret ke dalam proyek-proyek rahasia untuk mengembangkan senjata nuklir dan hidrogen.

Para ahli fisika tersebut tidak bisa berkomunikasi secara bebas, tidak bisa bertemu, berdiskusi atau pun menyelenggarakan konferensi internasional. Akibatnya adalah minimnya publikasi serius di bidang ilmiah. Sebagaimana dimaklumi, tanpa interaksi di antara para ahli seperti itu maka kemajuan ilmiah menjadi suatu hal yang mustahil. Padahal tidak lama sebelum pecahnya Perang Dunia Kedua, ilmu mekanika quantum telah melompat jauh ke depan berkat usaha bersama dari ratusan dan ribuan cendekiawan dari seluruh dunia. Kemajuan tersebut telah merubah total paradigma ilmiah serta sudut pandang para ilmuwan mengenai metoda pengenalan dan penataan dasar dari alam semesta. Mekanika Quantum laiknya harus permisi dari para pencetus mekanika klasik seperti Newton dan Galileo, karena menawarkan suatu sistem kaidah baru yang mengatur dunia kita. Disadari perlunya mengedepankan mekanika quantum ke tingkat yang lebih tinggi.

Berkat rahmat Tuhan, dari tahun 50-an sampai 70-an, Profesor Abdus Salam sedang tenggelam menekuni riset teoretikal lanjutan yang mengungkapkan bahwa sejumlah besar phenomena dan proses alamiah seperti pembelahan nukleus, formasi bintang-bintang neutron, pembentukan komposisi kimiawi dan struktur dari spiral DNA, cara kerja transistor semikonduktor, laser dan berbagai hal lainnya, semuanya itu mengikuti kaidah Mekanika Quantum.

Dengan keimanan yang kuat pada kekuasaan Allah s.w.t. serta berbekal aparatus matematika yang paling presisi ditambah ajaran Al-Qur’an, maka ilmuwan muda ini menjadi sepenuhnya terbenam dalam penelitian tentang mikrokosmos rahasia dari partikel-partikel elementer. Hasilnya terungkap tidak lama kemudian. Bahkan riset awal pun sudah mengemukakan konklusi yang di luar dugaan. Ia mengajukan teori tentang neutrino dua komponen. Abdus Salam adalah juga orang pertama yang memprediksi decay (peluruhan) dalam rangkaian interaksi nuklir lemah. Saya telah mengutarakan di atas bahwa sebagai sebutan dari phenomena ini, Profesor Abdus Salam mengajukan istilah baru yaitu ‘Electroweak’ ke dalam perbendaharaan kata fisika nuklir.

Dari tahun 1970 sampai 1980, Profesor Abdus Salam bersama dengan ilmuwan India yang juga profesor dari Maryland University, Amerika Serikat, yaitu Jagesh Pata, menggeluti masalah interaksi tiga daya kekuatan elektromagnetik, daya lemah dan daya kuat dari nuklir. Untuk tujuan ini mereka harus ‘membantah’ secara tepat teori matematika salah satu postulat fisika nuklir modern yang diterima umum tentang kekuatan dan ketidakterbaginya proton yang merupakan komponen utama dari nukleus nuklir. (Catatan: sebagaimana dimaklumi nukleus nuklir merupakan inti sebuah atom yang volumenya hanya satu per triliun tetapi massanya lebih dari 99%. Sebuah nukleus terdiri dari partikel-partikel dua jenis yaitu proton dan neutron, dimana jadinya nukleus biasa disebut nukleon. Nukleon membentuk nukleus nuklir dan terikat bersama oleh kekuatan atraksi atau tarik-menarik mutual yang disebut sebagai interaksi kuat daya kekuatan nuklir).

Sebagai hasil dari riset ini kedua ilmuwan kondang dari sub benua Indo-Pakistan telah mengajukan suatu hipotesa yang berani. Menurut teori ini bahkan proton (yang menyimpan kekuatan nukleus dari sebuah atom) bisa saja mengalami disintegrasi. Hanya saja durasi dari peluruhan proton ini memerlukan periode waktu yang astronomis yaitu 1032 tahun.

Keagungan Ruhani
Sebagai seorang cendekiawan yang mempunyai minat ilmiah beragam dan memiliki pengetahuan yang amat luas, Profesor Abdus Salam tetap saja tertarik pada sejarah dan problema modern tentang sains di dunia Muslim. Ia adalah salah seorang dari segelintir ilmuwan di abad terakhir yang berdasar analisis berkesinambungan atas sumber-sumber historikal, telah mampu mempelajari hampir semua bentuk perkembangan dalam sains alamiah di dunia Muslim sejak awalnya di abad ketujuh sampai dengan akhir abad keduapuluh.

Banyak artikel dan renungan ilmiah brilian dari para ilmuwan tentang masa lalu dan masa depan dunia Muslim yang telah menjadi saksi akan hal tersebut. Mayoritas dari artikel-artikel itu termaktub dalam koleksi karyanya yang berjudul Ideals and Realities. Buku ini telah terbit dalam beberapa edisi selama masa hidup si pengarang. Koleksi ini diterbitkan dalam bahasa-bahasa Barat (Inggris, Perancis, Italia dan Romania) serta bahasa di Timur seperti Cina, Arab, Parsi, Benggala, Punjabi dan Urdu, dimana tiga yang terakhir digunakan sebagai rujukan oleh pengarang ini.

Monograf Profesor Abdus Salam lainnya yang menarik adalah Revival of Science in Islamic Countries yang diterbitkan di Singapura pada tahun 1994. Para pengarang berbagai artikel yang mengkhususkan diri mempelajari kehidupan dan kinerja Profesor Abdus Salam menyatakan bahwa dalam abad keduapuluh, ia adalah wakil pertama yang unik dari dunia Islam yang mendapatkan Hadiah Nobel atas keberhasilan akbar di bidang ilmiah. Memang benar apa yang dikemukakan itu namun rasanya perlu memahami hal ini dari perspektif yang lebih luas.

Bisa jadi, lebih dari yang lain-lainnya para cendekiawan kontemporer, ia memahami kebutuhan mutlak pengembangan ilmiah di negara berkembang. Hanya melalui kerjasama saling menguntungkan di antara Utara dan Selatan, disertai kerjasama yang telah berkembang selama berabad-abad antara Timur dan Barat, yang akan bisa menolong kebudayaan modern menghindari konfrontasi yang telah membayang. Profesor Abdus Salam pada dasarnya adalah seorang yang taat beragama. Ia melakukan shalat lima waktu setiap harinya, kapan dan di mana pun ia berada. Ia menggabungkan keterampilan intelektual dengan sisi keruhanian dirinya. Dalam pernyataan publik serta artikel-artikelnya ia menekankan bahwa terdapat 750 ayat dalam Al-Qur’an sebagai firman Tuhan yang memerintahkan manusia untuk mempelajari alam serta mencari sarana guna mengendalikannya. ‘Aku telah mengabdikan seluruh hidupku untuk menerapkan perintah Al-Qur’an tersebut’ katanya.

Di tahun 1979 Profesor Abdus Salam mentilawatkan beberapa ayat dari Al-Quran dalam pidatonya di aula Nobel Hall. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah aula itu diperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Kemudian dalam pidato Nobelnya, Profesor Abdus Salam mensitir ayat yang lain. Ia menyatakan: ‘Nyatanya Islam merupakan keimanan semua ahli fisika karena memberikan inspirasi dan dorongan bagi kami semua. Bertambah dalam kami mencari, bertambah kagum kita dibuatnya tetapi juga bertambah banyak misteri baru yang muncul.’

Pahlawan Pakistan
Sebagian besar umur Profesor Abdus Salam dihabiskan jauh dari tanah air. Ia disibukkan dengan riset ilmiah di London dan Trieste serta berkeliling ke seluruh dunia untuk mengikuti berbagai konferensi dan forum ilmiah internasional. Meski selama 40 tahun hidup di negeri asing di tengah bangsa yang mayoritas Kristen, ia tetap saja merupakan seorang Muslim yang taat. Walaupun didekati melalui berbagai cara, ia tidak mau berpindah menjadi warga negara dari negeri dimana ia tinggal. Ia tetap saja menganggap dirinya warga Pakistan dan tidak pernah kehilangan hubungan dengan tanah airnya. Ia selalu mengingat dan menghormati akar jati dirinya (negeri ibu bapaknya, teman-teman Muslim dan kolega akademisi) serta selalu berusaha membantu negerinya untuk ‘melepaskan diri dari kemiskinan.’

Selama periode panjang tahun 1958-1974 ia adalah anggota dari Komisi Tenaga Atom Pakistan dimana ia memberikan sumbangan ilmiahnya dalam pendirian stasion tenaga atom dekat Karachi. Dari tahun 1961 sampai 1974 ia adalah Penasihat Utama (Chief Scientific Advisor) dari Presiden Pakistan. Pada kesempatan pertama kembali ke Pakistan, ia memberikan kuliah-kuliah dan mencoba meyakinkan para pemimpin Pakistan tentang perlunya mendidik para spesialis dalam sains serta menciptakan iklim yang kondusif untuk pengembangan teknologi. Sedapat mungkin ia memberikan bantuannya di bidang ini. Hanya saja tidak semua hal bisa dikendalikannya, dan lebih sering lagi struktur pemerintahan yang tidak memahami upaya dan tawaran ilmiahnya yang tulus.

Pertemuan di Moskow
Profesor Abdus Salam mengunjungi Moskow lebih dari satu kali dan ia merupakan peserta yang dinantikan pada konferensi ilmiah akbar dan perayaan ulang tahun akademi-akademi yang diadakan di sini. Ia dianggap tokoh yang mumpuni di kalangan ilmuwan Uni Soviet. Para ahli teoritis dan fisika Soviet mengenal dan mengagumi karya-karya ilmiahnya. Jauh sebelum dianugrahi Hadiah Nobel, pada tahun 1971 Profesor Abdus Salam secara aklamasi terpilih sebagai anggota dari USSR Academy of Science. Kemudian pada tahun 1983 ia memperoleh penghargaan Lomonosov Gold Medal yang merupakan penghargaan tertinggi dari USSR Academy of Science. Di tahun 1995 ia mendapat penghargaan Maxwell di Inggris serta medali emas yang diberikan oleh Akademi Pekerja Kreatif Rusia. Tahun 1992, Rektor dari St. Petersburg University secara khusus berkunjung ke Trieste, Italia, untuk menyampaikan diploma honorer Doctor of Science dari universitas tersebut kepada Profesor Abdus Salam.

Sebagai seorang ilmuwan humanis, penganut paham demokrasi dan pengikut keimanan yang luhur, ia selalu menanggapi serius tekanan moral dan politis atas kaum ilmuwan. Secara khusus ia bertemu dan berbicara di muka umum dengan akademisi A. Sakharov ketika yang bersangkutan sedang dijauhi oleh para koleganya sendiri akibat tekanan pemerintah Soviet. Dengan cara itulah Profesor Abdus Salam memberikan sokongan moril. Setelah A. Sakharov dikucilkan ke Gorky, Profesor Abdus Salam mengiriminya sebuah surat bersahabat dan beberapa artikel ilmiah. Mereka bertemu ketiga kalinya pada tahun 1987 ketika A. Sakharov kembali ke Moskow. ‘Aku selalu terpesona oleh pengetahuan Sakharov yang demikian komprehensif. Sebagai pribadi mau pun sebagai seorang ilmuwan, ia patut mendapat penghargaan dan menjadi legenda di masa hidupnya’ demikian tulis Profesor Abdus Salam ketika ilmuwan Rusia itu meninggal secara mendadak.

Pada tahun 1987 Profesor Abdus Salam mengambil bagian dalam sebuah konferensi internasonal yang besar di Moskow mengenai pengurangan senjata nuklir. Ia secara tegas mendukung larangan atas senjata pemusnah massal. Ia selalu menghimbau komunitas dunia untuk memanfaatkan potensi studi tenaga nuklir hanya untuk tujuan damai dan konstruktif saja.

Memori Generasi
Tidak lama setelah esai ini selesai, saya bermimpi indah bahwa setelah tigapuluh tahun saya kembali ke Lahore sebagai seorang turis asing. Segala sesuatu terasa seperti dalam film dokumenter. Penunjuk jalan saya adalah seorang wanita Pakistan yang berpakaian seperti pramugari penerbangan PIA dan ia menawarkan route turis istimewa melalui kota Lahore ‘Mengikuti jejak sejarah dari fisika quantum’ katanya. Saya tidak mengerti benar kombinasi aneh Lahore dan Fisika Quantum demikian tetapi setuju saja untuk melihat sesuatu yang istimewa.

Wanita ini membawa saya dengan sebuah becak bermotor sepanjang jalan raya Abdus Salam sampai ke gerbang Kolese Pemerintah dari Abdus Salam Punjab University. Penunjuk jalan ini secara kompeten dan bergegas menjelaskan bahwa nama Abdus Salam diterakan pada universitas itu sejalan dengan Peraturan Khusus Pemerintah Pakistan saat ulang-tahun ke 80 dari ilmuwan kondang tersebut. Ia ini lulusan universitas tersebut dan adalah seorang profesor. Dari sinilah ia memulai layangan jauhnya ke puncak sains dunia.

Sambil diiringi tepuk tangan para mahasiswa, kami berjalan ke perpustakaan ilmiah Abdus Salam ke arah aula luas dimana terdapat ukiran tembaga bertuliskan bahasa Inggris dan Punjabi: ‘Dari tahun 1951 1954 Profesor Abdus Salam, ahli fisika yang terkenal di seluruh dunia yang memimpikan sekolah fisika teoretikal bagi Pakistan, pernah memberikan kuliah matematika tinggi di aula ini.’

Miss Nahid mengumumkan bahwa akhir dari tour ini adalah kubah makam Abdus Salam yang terletak tidak jauh dari Lahore yaitu dekat kota Rabwah. Hanya ada dua makam modern demikian di Pakistan, salah satunya adalah mausoleum dari pendiri Pakistan, Mohammed Ali Jinnah di Karachi dan yang kedua adalah mausoleum pendiri dan pengilham sains Pakistan di Rabwah. Kemudian saya terbangun dari mimpi itu. Tetapi rasanya mimpi itu patut menjadi kenyataan di masa depan. Pakistan berhutang banyak pada putra agungnya ini yang telah mengharumkan nama negerinya di dunia sains abad keduapuluh. (Penterjemah: A.Q. Khalid)

Abdus Salam dan Rahasia Mikrokosmos Quantum (Bag. 1)


Oleh Dr. Yulduz N. Khaliulin (Moscow)

Cendekiawan Pakistan yang terkenal, seorang primadona dari antara para ahli fisika teoritis dari abad yang baru saja lalu, pemenang Hadiah Nobel yaitu Profesor Abdus Salam (1926-1996) secara abadi telah menorehkan namanya di kalangan sains dunia sebagai seorang periset akbar mengenai hukum interaksi partikel nuklir elementer dan strukturnya. Ia telah memberikan kontribusi besar bagi penelitian dan pemahaman dunia yang multi kompleks dan bersifat probabilistik sedemikian rupa dimana ia telah mencapai tingkatan saatnya teori mekanika klasik Newton berakhir dan kaidah-kaidah Fisika Quantum mulai berperan.

Profesor Abdus Salam merupakan salah seorang pencipta dari ‘model standar’ modern dari struktur atom. Konsep paling modern dari fisika teoritis (untuk mana Profesor Abdus Salam beserta dua orang ilmuwan Amerika Serikat yaitu S. Gleshou dan S. Vajnberg mendapat Hadiah Nobel tahun 1979) menghasilkan gambaran konstruksi dari suatu teori yang menggabungkan elektromagnetisme dengan interaksi lemah dari partikel nuklir. Albert Einstein yang terkenal tidak berhasil sepanjang hidupnya untuk menciptakan teori tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa seorang ilmuwan Muslim telah sampai di tubir pengungkapan kaidah-kaidah fundamental yang berlaku umum baik dalam suatu mikrokosmos atau pun makrokosmos. Kaidah yang ditemukan menjelang abad 21 telah membawa fajar baru dalam pemahaman filosofis Ketunggalan Alam Semesta.

Sosok penata ilmu dengan nama yang diakui seluruh dunia, pendiri dan selama periode tigapuluh tahun telah menjadi pemimpin dari International Centre of Theoretical Physics (ICTP) di Trieste, Italia, Profesor Abdus Salam sekarang ini diakui sebagai ikon dan sumber ilham dari kebangkitan kembali sains di dunia Islam. Tidak saja di dunia Islam, tetapi juga di semua negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Menurut perkiraan terakhir, lebih dari 70.000 ilmuwan muda dari 80 negara di dunia, umumnya dari negara-negara berkembang, telah lulus dari Sentra Ilmiah yang diberi nama menurut Profesor Abdus Salam. Berkat upayanya yang sangat luar biasa, dalam waktu singkat Sentra ini telah menjadi ‘tempat menempa’ beberapa generasi ahli fisika. Di sini mereka bisa menggeluti dan bercengkerama dengan tokoh-tokoh utama dari dunia sains.

Jalan Menuju Puncak Ilmu
Ahli fisika terkenal di masa depan itu lahir pada tanggal 26 Januari 1926 di Jhang, sebuah kota kecil pedusunan yang terletak di barat laut perbatasan India. Sejak tahun 1947, daerah ini menjadi bagian dari Punjab, salah satu dari empat provinsi Pakistan. Profesor Abdus Salam meninggal dunia dalam bulan November 1996 dan sesuai dengan wasiatnya, ia dimakamkan tidak jauh dari kota asalnya di sebuah pemakaman Muslim di kota Rabwah, berdekatan dengan makam orang-tuanya.

Di antara dua tanggal tersebut terentang periode dimana 50 tahun di antaranya dicurahkan dalam kerja riset berkesinambungan di berbagai tempat di dunia. Tahun-tahun tersebut dipenuhi dengan keberhasilan kreativitas, kekecewaan politis, ketegangan dramatis tetapi juga kedamaian ruhaniah. Dan hasil akhirnya memang suatu yang akbar. Profesor Abdus Salam menulis berpuluh-puluh buku dan monograf ilmiah disamping lebih dari tigaratus artikel mengenai problema paling kompleks dari fisika nuklir serta permasalahan aktual mengenai persiapan ilmuwan muda di negara-negara berkembang.

Sebagai hasil akhir dari penelitian fundamental di bidang fisika nuklir ini telah menghasilkan kemenangan dalam bentuk pengakuan dan ketenaran dunia. Bukti daripada itu adalah dimana Profesor Abdus Salam ditunjuk sebagai anggota dari sekitar 50 lembaga ilmiah akademisi disamping beberapa asosiasi ilmiah dunia. Ia mendapat duapuluh penghargaan internasional dan medali emas di bidang fisika, termasuk Hadiah Nobel itu sendiri. Sebagai pengakuan atas kontribusi besar bagi perdamaian dunia dan pengembangan kerjasama ilmiah internasional, ilmuwan ini mendapat 14 penghargaan utama dari organisasi-organisasi internasional. Ia juga memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dari lebih 40 universitas terkenal di lima benua.

Sedikit sekali ahli fisika di abad duapuluh yang pernah menerima penghargaan dan pengakuan dunia seperti yang diterimanya, yaitu tiga di antaranya merupakan pendahulu dirinya seperti Albert Einstein, Ernest Rutherford dan Niles Bore. Menurut para ahli sejarah keilmuan, Profesor Abdus Salam sebagai pengarang dari teori universal tentang elektromagnetisme dan interaksi lemah dari partikel nuklir, sesungguhnya patut menjadi salah satu bintang dalam konstelasi para cendekiawan terkemuka.

Jalannya menuju puncak ketenaran di bidang ilmiah sebenarnya agak luar biasa sehingga perlu ditengok sepintas perjalanan hidup dari awal, rintangan-rintangan serius yang harus diatasi, dari sejak ia masih bocah kecil dari sebuah desa di Punjab yang secara gradual beralih warna menjadi seorang ilmuwan dunia yang terkemuka. Di rumah ia memperoleh pendidikan Islam yang solid di antara sekian banyak anak-anak. Ibunya secara teratur membacakan doa-doa Islam kepada anak-anaknya. Ibunya inilah yang pertama kali menyadari kemampuan ingatan phenomenal dari anaknya tersebut. Abdus Salam dengan mudah dan sangat tepat menghafal keseluruhan surah-surah Al-Qur’an. Ayahnya, Hazrat Mohammad Hussein, sebagai seorang guru segera menyadari bahwa sekolah lokal tidak akan menambah banyak pada pendidikan putranya. Karena itulah ia berusaha sekuat tenaga guna mengirim putranya ini ke akademi negeri untuk studi intensif.

Karena itu pada tahun 1938, Abdus Salam yang berusia dua belas tahun dikirim ke Lahore yang merupakan kota pusat kebudayaan dan politik yang besar di sub-benua India. Kota ini juga terkenal karena mahakarya di bidang arsitektur Muslim abad pertengahan. Pada tahun 1940 di kota ini dicanangkan Deklarasi Lahore yang menjadi rintisan jalan menuju pembentukan negara Pakistan di tahun 1947.

Hanya saja ketika Abdus Salam sebagai seorang anak kecil pertama kalinya tiba di Lahore dari desa terbelakang (qasba) dimana ia baru pertama kalinya melihat lampu listrik, ternyata ia mempunyai pikiran dan pandangan yang lain. Ia secara tekun mulai mempelajari hukum dasar dari elektromagnetisme yang pertama kali ditemukan oleh Faraday dan Maxwell lama sebelumnya. Anak lelaki ini harus mempelajari formula paling sulit dalam matematika dan subyek-subyek lainnya. Tak lama kemudian ia akan mencengangkan dunia ilmiah dengan penemuan dirinya sendiri dalam bidang ruang lingkup pengetahuan yang lebih kompleks. Muncul istilah baru yaitu ‘Electroweak’ (electro weak interaction interaksi lemah elektro) dalam dunia fisika nuklir. Konsep ini pertama kalinya diperkenalkan Abdus Salam di kota London yang menjadi tempat kelahiran para ahli fisika terkemuka, dan memperoleh tempat mencolok di lingkungan ilmiah modern.

Abdus Salam menjadi pemenang pertama dari Premium Maxwell dan medali Maxwell yang diberikan oleh Scientific Organisation of the United Kingdom. Berikutnya adalah penghargaan-penghargaan dan nominasi lainnya yang tidak kalah prestisenya seperti Premium Robert Oppenheimer (1971), medali Einstein (UNESCO, Paris), Birla Premium (India), medali emas Lomonosov (USSR Academy of Sciences) dan banyak lagi lainnya.

Ia merupakan siswa yang rajin dari Punjab University, dari mana ia lulus dengan pujian pada tahun 1946. Ia tercatat sebagai yang teratas dalam segala mata ujian akhirnya. Keberhasilan dalam studi telah memberinya kesempatan untuk memperoleh beasiswa guna melanjutkan pendidikan ke Inggris di Cambridge University yang terkenal ke seluruh dunia. Dalam tahun 1949 ia memperoleh gelar MA dengan pujian tertinggi di bidang matematika dan fisika.

Dari tahun 1950 sampai 1952, cendekiawan muda ini sibuk dengan penelitian awal dalam bidang Fisika Quantum di Laboratorium Cavendish yang terkenal, sebuah lembaga yang sejak pertengahan abad ke duapuluh telah menjadi pusat utama dari fisika teoretikal. Laboratorium ini telah menghasilkan selusin pemenang Hadiah Nobel. Pernah bekerja di laboratorium ini antara lain beberapa ilmuwan akbar seperti Ernest Rutherford dari New Zealand, Niles Bore dari Belanda, Peter Kapitsa dari Rusia dan banyak ahli fisika dunia yang terkenal lainnya.

Cendekiawan Muslim muda dari Pakistan, yang nama negerinya baru saja muncul dalam peta politik dunia, secara tak terduga melesat masuk ke dalam konstelasi dunia ahli fisika teoretikal. Dalam tahun 1952 ia berhasil mendapatkan gelar doktor dalam fisika teoretikal. Thesis yang dikemukakannya adalah tentang elektrodinamika quantum dan untuk itu ia mendapat penghargaan premium Smith, justru sebelum thesis itu disetujui secara formal. Setelah ini maka jalan menuju ‘Ilmu’ dengan huruf besar serta pintu-pintu gerbang laboratorium riset terbaik dunia menjadi terbuka bagi Abdus Salam.

Dengan dipublikasikannya thesis tersebut maka Abdus Salam menjadi bintang baru di bidang fisika teoretikal. Pendekatan orisinil dan baru yang dilakukannya atas topik penelitian dan aparatus matematikal sempurna yang digunakan ilmuwan muda ini telah menempatkan dirinya sebagai fokus perhatian seluruh komunitas fisika internasional. Untuk itu ia memperoleh berbagai penawaran menggiurkan di Eropa.

Namun dengan adanya semua kesempatan menguntungkan demikian, ia memutuskan kembali ke tanah airnya sendiri. Ia menjadi profesor pengajar Matematika di State College yang merupakan bagian dari Punjab University. Abdus Salam berusaha keras namun tidak berhasil untuk menciptakan kelompok nasional para ahli teoritis di bidang fisika di Pakistan. Segera ia menyadari dengan lingkungan seperti itu, tidak akan ada kesempatan baginya untuk mewujudkan visinya. Ditambah lagi ia memahami bahwa jauh dari sentra-sentra riset Eropa yang terkemuka maka ia tidak akan bisa melanjutkan studinya dalam fisika teoretikal.

Pada tahun 1954, Profesor Abdus Salam kembali ke Cambridge dimana ia mengajar Matematika. Selama 35 tahun berikutnya (1957-1993) ia menjabat sebagai profesor fisika teoretikal di London University. Secara aktif ia meretas jalan ke riset berbagai bidang fisika modern. Studi yang dilakukannya mendapat penghargaan berbagai premium internasional. Kota London dimana ia menghabiskan 40 tahun dari usianya, bagi Profesor Abdus Salam merupakan tempat yang nyaman guna refleksi atau renungan keilmiahan. Ia selalu mengunjungi kota ini setiap bulan bahkan ketika ia memimpin lembaga Centre of Theoretical Physics di Trieste. (Bersambung ke Bag. 2)