Alhujjatul Muntadhar Alqaim Muhammad Almahdi


Menurut pendapat para ahli sejarah dan hadits, Imam Mahdi as dilahirkan pada malam Jumat, 15 Sya'ban 255 atau 256 H. Ayahanda beliau adalah Imam Hasan al-'Askari dan ibunda beliau—menurut beberapa riwayat—bernama Narjis, Shaqil, Raihanah, atau Susan. Akan tetapi, beragamnya nama yang dimiliki oleh ibunda beliau ini tidak mengindikasikan keberagaman diri sebagai seorang wanita. Karena, tidak menutup kemungkinan beliau memiliki nama-nama yang beragam sebagaimana layaknya orang-orang besar lainnya. [1] Tempat kelahiran beliau adalah Samirra`, sebuah kota besar di Irak dan pada masa kekhilafahan Bani Abbasiah pernah menjadi ibu kota kerajaan. Silsilah nasab beliau secara terperinci adalah Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-‘Askari bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali as-Sajjad bin Husain as-Syahid bin Ali bin Abi Thalib as. Kelahiran beliau adalah sebuah realita yang tidak dapat dipungkiri. Banyak sekali bukti historis dan tekstual yang menegaskan hal itu.  Imam Ja'far ash-Shadiq as berkata: “Tidak akan meninggal dunia salah seorang dari kami kecuali ia akan meninggalkan seseorang yang akan meneruskan missinya, berjalan di atas sunnahnya dan melanjutkan dakwahnya.” [2]

Hakimah, bibi Imam Hasan al-‘Askari as pernah menggendong beliau dan melihat di bahu sebelah kanannya tertulis “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna”. (QS. Al-Isrâ`: 81). Kurang lebih enam puluh lima ulama Ahlussunnah dalam buku-buku mereka juga menegaskan hal itu. Syeikh Najmuddin al-‘Askari dalam bukunya al-Mahdi al-Mau’ûd al-Muntazhar menyebutkan empat puluh nama mereka dan Syeikh Luthfullah ash-Shafi dalam bukunya Muntakhab al-Atsar menyebtukan dua puluh enam nama. [3] Di antara mereka adalah:

a.        Ali bin Husain al-Mas’udi. Ia menulis: “Pada tahun 260, Abu Muhammad Hasan bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib as meninggal dunia pada masa kekhilafahan al-Mu’tamid al-Abbasi. Ketika meninggal dunia, ia baru berusia dua puluh sembilan tahun. Ia adalah ayah Mahdi al-Muntazhar.” [4]
b.       Syamsuddin bin Khalakan. Ia menulis: “Abul Qasim Muhammad bin Hasan al-‘Askari bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad adalah imam Syi’ah yang kedua belas. Julukannya yang terkenal adalah al-Hujjah. Syi’ah menjulukinya dengan al-Muntazhar, al-Qâ`im dan al-Mahdi. Ia dilahirkan pada hari Jumat, 15 Sya’ban 255. Ketika ayahnya meninggal dunia, usianya baru lima tahun. Nama ibunya adalah Khamth, dan menurut pendapat sebagian ulama, Narjis.” [5]
c.        Syeikh Abdullah asy-Syabrawi. Ia menulis: “Imam kesebelas adalah Hasan al-‘Askari. Ia lahir di Madinah pada tanggal 8 Rabi’ul Awal 232, dan pada tanggal 8 Rabi’ul Awal 260 meninggal dunia pada usia dua puluh delapan tahun. Cukuplah menjadi sebuah kebanggaan baginya bahwa ia adalah ayah Imam Mahdi al-Muntazhar ... Mahdi dilahirkan di Samirra` pada malam nishfu Sya’ban 255, lima tahun sebelum kewafatan ayahnya. Dari sejak dilahirkan, ayahnya selalu menyembunyikannya dari pandangan umum karena beberapa problem (yang  menuntut) dan kekhawatiran terhadap ulah para khalifah Abbasiah. Karena Bani Abbas selalu mencari-cari keluarga Rasulullah dan menjatuhkan hukuman terhadap mereka, membunuh atau menggantung mereka. Hal itu dikarenakan mereka berkeyakinan bahwa dinasti kerajaan mereka akan musnah di tangan keluarga Muhammad. Yaitu, di tangan Imam Mahdi as. Dan mereka mengetahui realita ini dari hadis-hadis yang mereka dengar dari Rasulullah SAWW.” [6]
d.       Syeikh Abd. Wahhab asy-Sya’rani. Ia menegaskan: “Mahdi adalah salah seorang dari putra-putra Imam Hasan al-‘Askari as. Ia dilahirkan pada malam nishfu Sya’ban 255. Ia hidup (hingga sekarang) sehingga ia berjumpa dengan Nabi Isa as (kelak).” [7]
e.        Syeikh Sulaiman al-Qunduzi al-Hanafi. Ia menulis: “Satu berita yang pasti dan paten di kalangan orang-orang yang dapat dipercaya adalah, bahwa kelahiran al-Qâ`im terjadi pada malam nishfu Sya’ban 255 di kota Samirra`.” [8]  

Manipulasi Hadis

Ketika kita merujuk kepada buku-buku referensi hadis dan sejarah, yang kita dapati adalah, bahwa Imam Mahdi as adalah putra Imam Hasan al-‘Askari, sebagaimana hal itu dapat kita simak pada sekilas pembahasan di atas. Akan tetapi, kita akan menemukan satu hadis dalam buku-buku referensi Ahlussunnah yang berlainan dengan hadis-hadis tersebut. Di dalam hadis ini terdapat penambahan sebuah frase yang—mungkin—memang disengaja untuk memanipulasi dan menciptakan keraguan dalam menilai hadis-hadis tersebut. Anehnya, sebagian orang memegang teguh satu hadis ini dan meninggalkan hadis-hadis lain yang lebih dapat dipercaya, mungkin karena hadis itu sejalan dengan ide dan kiprah politik-sosialnya. Hadis itu adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ دَاوُدَ، عَنْ زَائِدَةَ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ زُرٍّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، عَنِ النَّبِيِّ (ص) أَنَّهُ قَالَ: "لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ يَوْمٌ وَاحِدٌ، لَطَوَّلَ اللهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ اللهُ رَجُلاً مِنِّيْ (أَوْ: مِنْ أَهْلِ بَيْتِيْ) يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِيْ وَ اسْمُ أَبِيْهِ اسْمَ أَبِيْ ، يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلاً كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَ جَوْرًا."

Diriwayatkan dari Abu Daud, dari Zaidah, dari ‘Ashim, dari Zurr, dari Abdullah, dari Nabi saw bahwa beliau bersabda, “Seandainya tidak tersisa dari (usia) dunia ini kecuali hanya sehari, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu hingga Ia membangkitkan seseorang dariku (dari Ahlulbaitku) yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku . Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan sebagaimana ia telah dipenuhi oleh kezaliman dan kelaliman.” Hadis di atas tidak dapat kita jadikan pijakan, baik dari sisi sanad maupun dari sisi kandungan.

Dari sisi sanad, hadis ini diriwayatkan dari Zaidah. Jika kita merujuk kepada buku-buku ilmu Rijal, akan kita dapatkan bahwa semua nama Zaidah memiliki catatan negatif dalam sejarah hidupnya; Zaidah bin Sulaim adalah seorang yang tidak diketahui juntrungannya (majhûl), Zaidah bin Abi ar-Ruqad adalah seorang yang lemah (dha’îf), menurut Ziyad an-Numairi dan hadisnya harus ditinggalkan, menurut Bukhari, dan Zaidah bin Nasyid tidak dikenal kecuali melalui riwayat putranya darinya, menurut Ibnu al-Qatthan. Sementara Zaidah (dengan tidak disebutkan nama ayahnya), hadisnya harus ditinggalkan, menurut Abu Hatim dan hadisnya tidak bisa diikuti, menurut Bukhari, atau ia ahli dalam menyisipkan kata-kata baru ke dalam hadis, menurut sebagian ulama Rijal. [9]

Dari sisi kandungan, tidak hanya Zaidah yang meriwayatkannya dari jalur Zurr. Bahkan, ada beberapa jalur lain selaian Zaidah, dan hadis-hadis itu tidak memiliki tambahan “dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku”. Dari sini dapat diketahui bahwa tambahan frase tersebut adalah ulah tangan Zaidah. Di samping itu, hadis-hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah saw mengenai Imam Mahdi as tidak memiliki tambahan frase tersebut. Ditambah lagi ijmâ’ Muslimin yang menegaskan bahwa Imam Mahdi adalah putra Imam Hasan al-‘Askari as.

Al-Hâfizh al-Kunji as-Syafi’i menulis, “Semua hadis yang datang dari saw tidak memiliki tambahan frase ‘dan nama ayahnya sama dengan nama ayahu’. ... Tirmidzi telah menyebutkan hadis tersebut dan tidak menyebutkan frase ‘dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku’, dan di dalam kebanyakan hadis-hadis para perawi hadis yang dapat dipercaya hanya terdapat frase ‘namanya sama dengan namaku’. Pendapat penentu dalam hal ini adalah, bahwa Imam Ahmad bin Hanbal dengan ketelitiannya telah meriwayatkan hadis tersebut di dalam Musnadnya di beberapa kesempatan, dan ia hanya menyebutkan frase ‘namanya sama dengan namaku’.” [10] Yang perlu kita simak di sini adalah mengapa penambahan frase itu harus terjadi? Adakah tujuan tertentu di balik itu?  Minimal ada dua kemungkinan di balik penambahan frase tersebut:

Pertama , ada usaha untuk melegitimasi salah satu penguasa dinasti Abbasiah yang bernama Muhammad bin Abdullah. Ia memiliki julukan al-Mahdi, dan dengan hadis picisan tersebut mereka ingin mengaburkan opini umum tentang al-Mahdi yang sebenarnya. Kedua , ada usaha untuk melegitimasi Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang memiliki julukan an-Nafs az-Zakiyah (jiwa yang suci). Karena ia memberontak kepada penguasa Bani Abbasiah waktu itu, para pembuat hadis itu ingin memperkenalkannya—sesuai dengan kepentingan politis-sosialnya—kepada khalayak bahwa ia adalah al-Mahdi yang sedang ditunggu-tunggu. [11]  

Kisah Kelahiran

Kisah kelahiran orang-orang besar selalu menyimpan rahasia dan misteri tersendiri. Betapa banyak peristiwa yang terjadi pada saat seorang agung lahir yang sungguh di luar kemampuan akal kepala kita untuk memahami dan “mempercayaninya”. Tapi, hal itu bukanlah seuatu hal yang aneh jika dikaitkan dengan kehendak Ilahi. Karena selama suatu peristiwa masih bersifat mungkin, bukan mustahil, hal itu masih berada di bawah ruang lingkup kehendak Ilahi meskipun termasuk kategori sesuatu yang aneh menurut akal kita. Kisah kelahiran Imam Mahdi as adalah salah atu dari sekian kisah aneh (baca: ajaib) yang pernah terjadi di sepanjang sejarah manusia. Mari kita simak bersama.

Sayidah Hakimah binti Imam Muhammad al-Jawad as bercerita: Abu Muhammad Hasan bin Ali (al-‘Askari) datang ke rumahku seraya berkata: “Wahai bibiku, berbuka puasalah di rumah kami malam ini. Malam ini adalah malam nishfu Sya’ban. Allah Ta’ala akan menampakkan hujjah-Nya di atas bumi pada malam ini.” “Siapakah ibunya?”, tanyaku “Narjis”, jawabnya singkat. “Sepertinya ia tidak memiliki tanda-tanda kehamilan?”, tanyaku lagi. “Hal itu akan terjadi seperti yang telah kukatakan”, katanya menimpali. Setelah sampai di rumahnya, kuucapkan salam dan duduk. Tidak lama Narjis datang menemuiku untuk melepaskan sandalku seraya berkata: “Wahai junjunganku, izinkanlah kulepaskan sandal Anda.” “Tidak! Engkaulah junjunganku. Demi Allah, aku tidak akan mengizinkan engkau melepaskan sandalku dan berkhidmat kepadaku. Seharusnya akulah yang harus berkhidmat kepadamu”, tegasku. Abu Muhammad mendengar ucapanku itu. Ia berkata: “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai bibiku.” Kukatakan kepada Narjis: “Pada malam ini Allah akan menganugrahkan kepadamu seorang putra yang akan menjadikan junjungan di dunia dan akhirat.” Ia duduk sambil menahan malu.

Setelah selesai mengerjakan shalat Isya`, aku berbuka puasa dan setelah itu, pergi ke tempat tidur. Ketika pertengahan malam tiba, aku bangun untuk mengerjakan shalat. Setelah aku selesai mengerjakan shalat, Narjis masih tertidur pulas dan tidak ada kejadian khusus terhadap dirinya. Akhirnya aku duduk-duduk sambil membaca wirid. Setelah itu, aku terbaring hingga tertidur pulas. Tidak lama kemudian, aku terbangun dalam keadaan tertegun, sedangkan ia masih tertidur pulas. Tidak lama berselang, ia terbangun dari tidurnya dalam keadaan ketakutan. Ia keluar untuk berwudhu. Ia kembali ke kamar dan mengerjakan shalat. Ketika ia sedang mengerjakan rakaat witir, aku merasa bahwa fajar sudah mulai menyingsing. Aku keluar untuk melihat fajar. Ya, fajar pertama telah menyingsing. (Melihat tidak ada tanda-tanda ia akan melahirkan), keraguan terhadap janji Abu Muhammad mulai merasuki kalbuku. Tiba-tiba Abu Muhammad menegorku dari kamarnya: “Janganlah terburu-buru wahai bibiku. Karena janji itu telah dekat.” Aku merasa malu kepadanya atas keraguan yang telah menghantuiku. Di saat aku sedang kembali ke kamar, Narjis telah selesai mengerjakan shalat. Ia keluar dari kamar dalam keadaan ketakutan, dan aku menjumpainya di ambang pintu. “Apakah engkau merasakan sesuatu?”, tanyaku. “Ya, bibiku. Aku merasakan berat sekali”, jawabnya. “Ingatlah Allah selalu. Konsentrasikan pikiranmu. Hal itu seperti yang telah kukatakan padamu. Engkau tidak perlu takut”, kataku menguatkannya.

Lalu, aku mengambil sebuah bantal dan kuletakkannya di tengah-tengah kamar. Kududukkannya di atasnya dan aku duduk di hadapannya layaknya seorang wanita yang sedang menangani seseorang yang ingin melahirkan. Ia memegang telapak tanganku dan menekannya sekuat tenaga. Ia menjerit karena kesakitan dan membaca dua kalimat syahadah. Abu Muhammad berkata dari balik kamar: “Bacalah surah al-Qadr untuknya.” Aku mulai membacanya dan bayi yang masih berada di dalam perut itu menirukan bacaanku. Aku ketakutan terhadap apa yang kudengar. Abu Muhammad berkata lagi: “Janganlah merasa heran terhadap urusan Allah. Sesungguhnya Allah membuat kami berbicara dengan hikmah pada waktu kami masih kecil dan menjadikan kami hujjah di atas bumi-Nya ketika kami sudah besar.” Belum selesai ucapannya, tirai cahaya menutupiku untuk dapat melihatnya. Aku berlari menuju Abu Muhammad sambil menjerit. “Kembalilah wahai bibiku. Engkau akan mendapatkannya masih di tempatnya”, katanya padaku.

Aku kembali. Tidak lama kemudian, tirai cahaya itu tersingkap. Tiba-tiba aku melihatnya dengan seunggun cahaya yang menyilaukan mataku. Kulihat wali Allah dalam kondisi sujud. Di lengan kanannya tertulis: “Telah datang kebenaran dan sirna kebatilan. Sesungguhnya kebatilan telah sirna”. Ia berkata dalam keadaan sujud: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain selain Allah Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, kakekku Muhammad adalah Rasulullah, dan ayahku Amirul Mukminin wali Allah.” Selanjutnya ia menyebutkan nama para imam satu-persatu hingga sampai pada dirinya. Kemudian, ia berdoa: “Ya Allah, wujudkanlah untukku apa yang telah Kau janjikan padaku, sempurnakanlah urusanku, kokohkanlah langkahku, dan penuhilah bumi ini karenaku dengan keadilan.” Setelah itu, ia mengangkat kepalanya seraya membaca ayat, “Allah bersaksi dalam keadaan menegakkan keadilan bahwa tiada tuhan selain Ia, dan begitu juga para malaikat dan orag-orang yang diberi ilmu. Tiada tuhan selian Ia yang Maha Perkasa nan Bijaksana. Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam”. (QS. Ali ‘Imran : 18-19) Kemudian, ia bersin. Ia berkata: “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Semoga Allah mencurahkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya. Orang-orang zalim menyangka bahwa hujjah Allah telah sirna.”

Aku menggendongnya dan mendudukknnya di pangkuanku. Sungguh anak yang bersih dan suci. Abu Muhammad berkata: “Bawalah putraku kemari wahai bibiku.” Aku membawanya kepadanya. Ia menggendongnya seraya memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya dan mengelus-elus kepala, kedua mata, telinga dan seluruh sikunya. Lalu, ia berkata kepadanya: “Berbicaralah wahai putraku.” Ia membaca dua kalimat syahadah dan mengucapkan shalawat untuk Rasulullah dan para imam satu-persatu. Setelah sampai di nama ayahnya ia diam sejenak. Ia memohon perlindungan dari setan yang terkutuk seraya membaca ayat: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dan Kami akan memberikan anugrah kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi, menjadikan mereka para pemimpin dan para pewaris. Dan Kami akan menjayakan mereka di muka bumi dan memperlihatkan kepada Fir’aun, Haman dan bala tentara mereka apa yang mereka takutkan.” Setelah itu, Abu Muhammad memberikannya kepadaku kembali seraya berkata: “Wahai bibiku, kembalikanlah kepada ibundanya supaya ia berbahagia dan tidak susah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Akan tetapi, mayoritas umat manusia tidak mengetahui.” Kukembalikan ia kepada ibunya dan fajar telang menyingsing waktu itu. Setelah mengerjakan shalat Shubuh, aku mohon pamit kepadanya. [12]

Kelahiran Yang Tersembunyi

Meskipun bukti-bukti tekstual dan historis di atas sangat gamblang dan jelas, kelahiran beliau masih menjadi misteri bagi sebagian orang. Mereka malah mengingkari bahwa beliau telah lahir dan menganggapnya masih belum lahir. Mungkin faktor utama atas klaim mereka itu adalah kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi dan tidak pernah melihat beliau kecuali sahabat-sahabat dekat Imam Hasan al-‘Askari as. Tapi, ketika kita memperhatikan situasi dan kondisi politik yang dominan dan sangat genting di masa-masa terakhir kehidupan Imam Hasan al-‘Askari, kita akan memaklumi kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi itu. Karena hal itu memang terjadi karena tuntutan sikon yang ada waktu itu mengingat Imam Mahdi as adalah hujjah Ilahi yang terakhir, dan seandainya penguasa waktu itu berhasil membunuh beliau, niscaya dunia ini sudah tutup usia.

Mungkin pendapat seorang penulis kenamaan berikut ini layak kita renungkan bersama, paling tidak hal itu dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Ia menulis, “Rahasia di balik kelahiran beliau yang terjadi secara tersembunyi itu adalah, bahwa ketika dinasti Abbasiah mengetahui melalui hadis-hadis Nabi dan para imam Ahlulbait as bahwa Imam Mahdi adalah imam kedua belas yang akan meratakan keadilan di atas bumi ini, menghancurkan benteng-benteng kesesatan, membasmi pemerintahan thaghut dan menguasai Barat dan Timur, mereka ingin untuk memadamkan cahaya Allah itu dengan cara membunuhnya. Oleh karena itu, mereka mengirim mata-mata dan para dukun bayi untuk menggeledah dan memeriksa rumah Imam Hasan al-‘Askari as. Akan tetapi, Allah masih berkehendak untuk menyempurnakan cahaya-Nya dan menyembunyikan kehamilan ibunda beliau, Narjis.

Disebutkan dalam beberapa referensi bahwa al-Mu’tamid al-Abbasi memerintahkan para dukun bayi untuk memasuki rumah-rumah Bani Hasyim, khususnya Imam Hasan al-‘Askari tanpa harus meminta izin sebelumnya barangkali mereka dapat menemukan beliau telah lahir. Akan tetapi, Allah masih menghendaki untuk memberlakukan apa yang pernah terjadi pada kisah kelahiran Nabi Musa as. Pihak penguasa mengetahui bahwa kerajaan mereka akan musnah di tangan salah seorang dari keturunan Bani Israil. Oleh karena itu, mereka selalu mengawasi setiap wanita keturunan Bani Israil yang sedang hamil. Ketika melihat anak yang lahir dari mereka adalah lelaki, mereka langsung membunuhnya. Tapi, dengan kehendak Allah Musa tetapi lahir dengan selamat dan Ia menyembunyikan kelahirannya. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa kelahiran Imam Mahdi as memiliki keserupaan dengan kelahiran Nabi Musa dan Ibrahim as.” [13]

Dari sekilas pembahasan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Imam Mahdi as sudah lahir. Karenan jika tidak demikian, mengapa para penguasa Abbasiah memberlakukan pengontrolan ketat terhadap keturunan Bani Hasyim, khususnya istri Imam Hasan al-‘Askari? Mengapa mereka memerintahkan para dukun-dukun bayi untuk memasuki rumah beliau tanpa harus meminta izin terlebih dahulu? Pada peristiwa syahadah Imam Hasan al-‘Askari pada tanggal 8 Rabi’ul Awal 260, Ja’far al-Kadzzâb, saudara beliau ingin menjadi imam di saat shalat janazah hendak dilaksanakan. Karena sunnah Ilahi bahwa seorang imam tidak dapat dishalati kecuali oleh imam setelahnya, Imam Mahdi menampakkan dirinya dan menyingkirkan Ja’far dari tempat imam shalat jenazah. Tidak lama, berita kemunculan beliau di hadapan khalayak tersebar dan hal itu pun sampai ke telinga al-Mu’tamid, penguasa dinasti Abbasiah kala itu. Akhirnya, ia memerintahkan bala tentaranya untuk menggeledah rumah Imam Hasan al-‘Askari demi menangkap Imam Mahdi dan menyerahkannya kepada Khalifah [14] . Meskipun kelahiran terjadi secara tersembunyi, tapi hal itu tidak menutup kemungkinan adanya sebagian orang yang pernah melihat beliau. Berikut ini nama-nama orang yang pernah melihat beliau dengan mata kepala mereka sendiri: [15]  

a.        Sayidah Hakimah binti Ali al-Hadi, bibi Imam Hasan al-‘Askari. Beliaulah yang menemani Narjis saat melahirkan Imam Mahdi as.
b.       Abu Ghanim, pembantu setia Imam Hasan al-‘Askari as
c.        Nasim, seorang pembantu di rumah Imam Hasan al-‘Askari as.
d.       Kamil bin Ibrahim al-Madani, seorang agung yang pernah menganut mazhab al-Mufawwidhah dan kemudian meninggalkannya. Ia bercerita, “Para sahabat Imam al-‘Askari pernah mengutusku untuk menanyakan beberapa masalah dan supaya aku mengetahui tentang anak beliau yang baru lahir. Aku masuk ke rumah beliau. Setelah mengucapkan salam, aku duduk di pinggir sebuah pintu yang ditutupi oleh kain. Tiba-tiba angin bertiup dan menyingkap ujung kain itu. Kulihat seorang anak kecil (di balik pintu itu) yang sangat tampan bagaikan rembulan. Ia kira-kira masih berusia empat tahun. Ia berkata kepadaku, ‘Hai Kamil bin Ibrahim!’ Buluku merinding mendengar suara itu dan aku diberi ilham untuk mengucapkan, ‘Ya junjunganku!’ Ia melanjutkan, ‘Engkau datang kepada wali Allah untuk menanyakan kepadanya tentang statemen bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang yang berkeyakinan seperti keyakinanmu?’ ‘Betul, demi Allah’, jawabku. ‘Jika begitu, amat sedikit orang yang akan memasukinya. Demi Allah! Pasti akan masuk surga kaum yang dikenal dengan sebutan al-Haqqiyah’, tandasnya. ‘Wahai junjunganku! Siapakah mereka itu?’, tanyaku. ‘Mereka adalah sekelompok kaum yang karena kecintaan mereka kepada Ali, mereka siap untuk bersumpah demi haknya, meskipin mereka tidak mengetahui hak dan keutamannya’, tandasnya. Kemudian, ia melanjutkan, ‘Engkau datang juga ingin menanyakan tentang keyakinan mazhab al-Mufawwidhah. Mereka telah berbohong. Sebenarnya hati kami adalah wadah bagi kehendak Allah. Ketika Allah berkehendak, kami pun berkehendak. Allah berfirman, ‘Dan kalian tidak mungkin berkehendak kecuali jika Allah berkehendak’.’ Kain itu pun tertutup kembali dan aku tidak dapat untuk menyingkapnya kembali. Ayahnya melihatku sembari tersenyum. Ia berkata kepadaku, ‘Kenapa engkau masih duduk di sini sedangkan hujjah setelahku telah menjawab pertanyaanmu?’”
e.        Abul Fadhl Hasan bin Husain al-‘Askari.
f.         Ahmad bin Ishaq al-Asy’ari al-Qomi, wakil Imam Hasan al-‘Askari di Qom.
g.        Ya’qub bin Manqusy.
h.        Isa bin Mahdi al-Jawahiri.
i.          Ibrahim bin Muhammad at-Tabrizi.
j.         Utusan kota Qom.
k.       Ibrahim bin Idris.

Nama dan Julukan

Orang-orang besar biasanya memiliki nama dan julukan lebih dari satu. Rasulullah SAWW memiliki nama dan julukan Muhammad, Ahmad, Thaha, Yasin, al-Basyir, an-Nadzir, dan lain sebagainya. Imam Ali dan seluruh imam dari keturunan beliau juga demikian. Hal itu bukanlah suatu hal yang kebetulan. Akan tetapi, menyingkap satu sisi dari sekian sisi kepribadian dan spiritual yang mereka miliki. Imam Mahdi pun tak luput dari kaidah di atas. Beliau pun memiliki nama dan julukan lebih dari satu, seperti al-Mahdi, al-Hujjah, al-Qâ`im, al-Muntazhar, al-Khalaf as-Shâlih, Shâhib al-Amr, dan As-Sayid. Pada kesempatan ini, kami akan menyebutkan sebagiannya saja beserta alasan yang ditegaskan oleh hadis-hadis mengapa beliau memiliki nama dan julukan tersebut.

a. Al Mahdi

Dalam beberapa hadis, beliau dijuluki dengan al-Mahdi. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah saw bersabda, “Nama al-Mahdi adalah namaku.” Hadis serupa juga pernah diucapkan oleh Amirul Mukminin as. Mengapa beliau diujuluki demikian? Hal itu dikarenakan Allah selalu menunjukkannya kepada hal-hal ghaib yang tidak diketahui oleh siapa pun. Berkenaan dengan hal ini Imam Muhammad al-Baqir as berkata, “Jika al-Mahdi kami telah bangkit, ia akan membagi-bagikan (harta) dengan sama rata dan berbuat adil terhadap rakyat jelata. Barangsiapa menaatinya, maka ia telah menaati Allah dan barangsiapa menentangnya, maka ia telah menentang Allah. Ia diberi nama al-Mahdi, karena Ia selalu menunjukkannya kepada sesuatu yang rahasia.” [16]

b. Al-Qâ`im

Julukan beliau ini mengungkap sebuah makna yang sangat signifikan. Al-Qâ`im adalah orang yang berdiri atau bangkit. Kebangkitan beliau kelak di akhir zaman berbeda sekali dengan seluruh kebangkitan yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Bisa diasumsikan bahwa kebangkitan beliau adalah satu-satunya kebangkitan yang belum pernah disaksikan oleh makhluk Allah. Jika kebangkitan-kebangkitan yang pernah terjadi sepanjang sejarah hanya bersifat parsial dan teritorial, kebangkitan beliau ini bersifat universal dan mendunia. Beliau akan menebarkan semerbak wangi kebenaran ke seluruh penjuru dunia sehingga setiap orang pasti dapat menikmatinya dengan penuh keleluasaan. Dalam sebuah hadis Imam Ja’far as-Shadiq as pernah berkata, “Ia dinamai al-Qâ`im karena ia akan menegakkan kebenaran (dengan kebangkitannya).” [17]  Abu Hamzah ats-Tsumali pernah bertanya kepada Imam al-Baqir as: “Wahai putra Rasulullah, bukankah kalian semua adalah orang-orang yang menegakkan kebenaran (qâ`imîn bil-haq)?”

“Ya”, jawab beliau.

“Mengapa hanya Imam Mahdi yang dijuluki al-Qâ`im?”, tanyanya lagi.

Beliau menjawab: “Ketika kakekku Husain as terbunuh, para malaikat menangis meraung-raung di hadapan Allah ‘azza wa jalla ... Setelah itu, Allah menunjukkan para imam dari keturunan Husain as (kepada mereka). Mereka menjadi gembira dengan hal itu. (Pada waktu itu), salah seorang dari mereka sedang berdiri (qâ`im) mengerjakan shalat. Lantas Ia berfirman: ‘Dengan (perantara) orang yang sedang berdiri itu Aku akan membalas dendam kepada mereka (para pembunuhnya)’.” [18]

c. Al-Muntazhar

Jika dalam keyakinan masyarakat dunia pekerjaan menunggu dan menanti adalah sebuah kegiatan yang menjemukan, menunggu kedatangan seorang juru penyelamat dari segala penderitaan adalah sebuah harapan yang dapat memberikan energi baru bagi kegiatan seseorang dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam konteks ini beliau diberi julukan al-Muntazhar, orang yang selalu dinantikan kedatangannya. Imam al-Jawad as pernah ditanya: “Wahai putra Rasulullah, mengapa ia dijuluki al-Qâ`im?” “Karena ia akan bangkit setelah dilupakan dan mayoritas orang yang meyakini imâmahnya murtad”, jawab beliau. “Mengapa diberi julukan al-Muntazhar?”, beliau ditanya kembali. “Karena ia memiliki sebuah ghaibah yang sangat panjang. Orang-orang yang tulus akan selalu meunggu kehadirannya dan orang-orang yang kotor akan mengingkarinya”, jawab beliau tegas.

d. Al-Hujjah

Dalam keyakinan Islam, hujjah Allah pasti selalu ada pada setiap masa. Tidak pernah berlalu sebuah masa yang hujjah Allah absen di situ. Karena ia adalah satu-satunya perantara faidh (anugrah dan karunia) Ilahi untuk seluruh makhluknya. Tanpa hujjah, faidh Ilahi akan terputus dan seluruh alam semesta akan luluh-lantak.  

[1] Muhammad Kazhim al-Qazwini, al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhûr, hal. 22-23.
[2] Ushûl al-Kâfî, jilid 1, hal. 397.
[3] Untuk telaah lebih luas mengenai hal ini,silakan merujuk ke buku al-Imam al-Mahdi min al-Mahdi ilâ azh-Zhuhûr, karya Allamah Muhammad Kazhim al-Qazwini, hal. 97-100, cetakan pertama, penerbitan an-Nur, Beirut.
[4] Murûj adz-Dzahab, jilid 4, hal. 199, cetakan Mesir 1377 M.
[5] Tarikh Ibnu Khalakan (Wafayât al-A’yân), jilid 3, hal. 316, cetakan Mesir, Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyah.
[6] Al-Ittihâf bi Hubb al-Asyrâf, hal. 178, cetakan Mesir 1316 H. menukil dari al-Mahdi al-Mau’ûd al-Muntazhar, karya Syeikh Najmuddin Ja’far al-‘Askari, jilid 1, hal. 200-201, cetakan Beirut 1397 H.
[7] Al-Yawâqît wa al-Jawâhir, hal. 145, cetakan Mesir 1307 M.
[8] Yanâbî’ al-Mawaddah, hal. 452, menukil dari al-Mahdi al-Mau’ûd, jilid 1, hal. 212-213.
[9] Syamsuddin Ahmad bin Muhammad adz-Dzahabi, Mîzân al-I’tidâl, jilid 2, hal. 52; al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhûr, hal. 24.
[10] Al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhûr, hal. 24 menukil dari al-Bayân fî Akhbâr Shâhib az-Zamân, hal. 93-94.
[11] Ibid. hal. 25.
[12] Al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilâ azh-Zhuhûr, hal. 114-118; Kamil Sulaiman, Yaum al-Khalâsh, hal. 67-86.
[13] Luthfullah ash-Shafi al-Gulpaigani, Muntakhab al-Atsar fî al-Imam ats-Tsânî ‘Asyar, hal. 286, cetakan ketiga, penerbitan ash-Shadr, Tehran.
[14] Muhammad Reza Hakimi, Khoshîd-e Maghreb, hal, 24-26.
[15] Untuk menelaah lebih lanjut tentang hal ini, silakan merujuk ke buku Yaum al-Khalâsh, hal. 67-86.
[16] Muttaqi al-Hindi al-Hanafi, al-Burhân ‘Alamât Mahdi Âkhir az-Zamân, bab 3, hadis ke-8 dan 9.
[17] Allamah al-Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jilid 51, hal. 30, cetakan Tehran 1393 H.
[18] Ibid. jilid 51, hal. 28-29.

Misi Imamah dan Jihad Intelektual Imam Ja’far as Shadiq As


Jika dilihat dan ditelaah secara cermat, keadaan masyarakat pada masa Imam Jafar as Shadiq) sudah sangat menyimpang dari ajaran Rasulullah Saw. Sebut saja maraknya aliran-aliran yang mulai menciptakan ajaran-ajaran mereka sendiri seperti mu’tazilah, zandaqah, ekstrimisme dan lain-lain yang membuat perbedaan dalam Islam semakin mencolok. Hal ini terjadi lantaran perbuatan para pemimpin Bani Umayyah maupun Abbasiyah yang berusaha memisahkan Umat Islam dari Ahlulbait Muhammad al Mustafa. Ya, di tangan penguasa itu agama hanya dijadikan alat propaganda demi melanggengkan kekuasaan mereka semata. Mereka menyewa ulama yang hubbud-dunya untuk menyebarkan politik-politik kotor mereka. Hal ini dapat dilihat dalam penyelewengan-penyelewengan dalam Islam, dari penyelewengan tafsir al Qur’an hingga sejarah Nabi Saw.

Penyelewengan Terhadap Tafsir al Qur’an

Para penguasa Bani Umayyah menggunakan kisah-kisah Israiliyat (khayalan-khayalan) untuk menafsirkan ayat-ayat al Qur’an. Seperti yang diriwayatkan bahwa Muawwiyah berkata kepada Ka’ab, “kamu berpendapat bahwa Zulkarnain mengikat kudanya pada bintang-bintang?” Ka’ab menjawab: jika kamu berkata demikian maka sesungguhnya Allah telah berfirman ‘dan kami telah memberikan kepadanya sebab (untuk mencapai) segala sesuatu”i. Maksudnya ialah Ka’ab meyakini kalau Zulkarnain mengikat kudanya pada bintang-bintang. Sungguh akal akan menolak hal ini. Walaupun apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, akan tetapi ini tidak membuat Allah akan bertindak seenaknya, karena hal itu berarti Allah telah berbuat dzalim terhadap hambaNya. Dan mustahil Allah berbuat dzolim

Penyelewengan Terhadap Hadits Nabi Saw

Diriwayatkan dalam Shahih Tirmidzi bahwa Nabi Muhammad Saw berdo’a untuk Muawwiyah bin Abu Sufyan “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai orang yang memberi petunjuk dan tempat memberi petunjuk serta berilah petunjuk dengannya”ii Lihatlah, dengan mudahnya perkataan suci Nabi Saw dibuat-buat seenaknya saja! Pantaskah Nabi Saw mendoakan seorang pembunuh washi-nya (penerima dan pengemban wasiatnya)? Mendoakan pembunuh cucunya.yaitu Al Hasan (Imam Hasan)? Pantaskan Nabi Saw mendoakan orang yang menancapkan al Qur’an keujung tombak? Tidak! Hadits ini adalah ulah tangan jahil Bani Umayyah melalui para ulama berhati serigala mereka!

Penyelewengan Terhadap Sejarah Kehidupan Rasul Saw

Hadits palsu lainnya menyebutkan bahwa Nabi Saw menggendong Aisyah di atas pundak beliau untuk melihat permainan akrobatik orang-orang Sudan dan pipi beliau menempel dipipi Aisyah. Atau hadits palsu yang mengatakan bahwa Nabi Saw mencintai istri anak angkatnya setelah beliau merangsang melihatnyaiii. Astagfirullah, hanya demi kekuasaan duniawi semata, Bani Umayyah rela memutar-balikkan fakta! Pantaskah Nabi Saw yang dipuji oleh Allah Swt karena keluhuran akhlaknya melakukan perbuatan nista tersebut? Sekali lagi, tidak! Hanya Setan-lah yang merasuk ke tubuh Dinasti Umayyah yang berani mengatakan hal ini! Dengan adanya penyelewengan-penyelewengan di atas, membuat umat Islam yang telah kehilangan seorang Rasul terbaik semakin terperosok ke dalam jurang kebodohan dan kehancuran. Akibatnya muncullah ajaran-ajaran yang telah keluar dari ajaran Rasul Saw seperti berikut:

1. Al Jabr (Pemaksaan Atau Fatalisme)

Pandangan ini berpendapat bahwa segala perbuatan manusia adalah perbuatan Allah, manusia tak memiliki ikhtiar, sebut saja boneka yang dipermainkan sesuka hati oleh pemiliknya. Dalil mereka adalah al Qur’an Surah al Iinsan ayat 30 dan al-An’am ayat 125 dan sebagainya. Pelopor pemikiran ini adalah para penguasa Bani Umayyah. Dengan penyimpangan ini, masyarakat akan yakin bahwa yang dilakukan Bani Umayyah adalah kehendak Allah. Sehingga masyarakat tidak berhak menentang merekaiv. Akhirnya masyarakat hanya bisa menerima segala perbuatan jahat Bani Umayyah yang mengatasnamakan ‘kehendak Tuhan’. Betapa licik dinasti Umayyah, menggunakan agama untuk menetapkan kedzaliman. Dan politik ini berjalan lancar, sehingga banyak umat Islam yang menganut ajaran ini pada masa Imam Ja’far Shadiq as.

2. Zandaqah (Ateis)

Pemikiran ini muncul pada masa Imam Ja’far Shadiq as akibat dari adanya pandapat Al Jabr (fatalisme) yang telah disebutkan itu, maka muncullah ajaran Zindiq (anti Tuhan) sebagai penolakan pandangan Jabr yang mengatasnamakan ‘kehendak Tuhan’. Ajaran ini muncul juga dikarenakan oleh kezaliman dan kebiadaban Bani Umayyah dalam segala lini kehidupan. Dan tentu saja hal ini sangat berperan dalam memisahkan masyarakat dari Ahlulbait Muhammad Almustafa yang merupakan pusaka suci Nabi Saw. Tersebutlah Ja’d bin Dirham, seorang ekstrim kufur, pembuat bid’ah yang mendedikasikan hidupnya dalam zandaqah (gerakan atheisme) serta memdengungkan ajaran dan doktrin ateis radikal (tidak meyakini adanya Tuhan)v. Dia menunjukkan kedangkalan akalnya secara demonstratif, seperti memasukkan tanah dan air dalam sebuah botol, kemudian beberapa saat terdapat cacing dalam botol yang semula diisi dengan tanah dan air tersebut. Kemudian dia berkata kepada para sahabatnya “Aku telah menciptakannya, karena aku adalah sebab keberadaannya”. Imam Ja’far as Shadiq ketika mendengar berita ini dan membantahnya dengan bukti rasional, beliau berkata “Jika dia (Ja’d) yang menciptakannya maka tanyakan kepadanya berapa jumlahnya? Berapa yang jantan dan yang betina? Berapa beratnya masing-masing? Mintalah kepadanya untuk mengubahnya menjadi bentuk yang lain!vi Jika melihat uraian di atas, maka dengan sangat jelas kita dapat melihat betapa melencengnya umat Islam dari ajaran Allah yang sebenarnya. Maka, nanti kita akan melihat bagaimana Imam Ja’far as Shadiq as menyelamatkan umat kakeknya ini.
.
Kondisi Politik Pada Masa Imam Ja’far As Shadiq As

Imam Ja’far as Shadiq as memiliki dua fase dalam kepemimpinan beliau. Pertama, fase runtuhnya Dinasti Umayyah hingga kehancurannya (114-132 H). Kedua, fase kekuasaan Dinasti Abbasiyah sampai beliau wafat (132-148 H), dan kondisi politik pada masa Imam Ja’far as Shadiq as tidak terlalu berbeda dengan situasi pada masa ayah beliau, Imam Muhammad al Baqir. Hisyam bin Abdul Malik yang membunuh Imam Muhammad al Baqir as (ayah Imam Ja’far as Shadiq) masih tetap berkuasa dan penerapan politiknya pun masih sama dengan masa ayahnya. Sistem politik penguasa pada masa itu dibangun dengan dasar barbarisme dan despotisme, sehingga para pecinta Ahlulbait Muhammad Almustafa harus rela tertindas, dihina bahkan dibunuh secara tragis. Bahkan bukan hanya para pecinta keluarga Nabi Saw saja, para kaum fakir nan miskin yang tidak mengenal Ahlulbait pun juga disiksa dan dibunuh.

Hal itu dapat dilihat dalam diri Zaid bin Ali bin Husain ra. Zaid bin Ali ra menggambarkan betapa biadabnya para penguasa pada masa itu sehingga menciptakan tragedi dahsyat pada ummat. Jabir bin Yazid Ju’fi meriwayatkan ungkapan Zaid bin Ali ra saat dia bertemu “Wahai Jabir, aku tak bisa tinggal diam sementara kitabullah dilanggar dan perilaku mereka (penguasa) seperti Setan. Aku menyaksikan Hisyam dan seorang lelaki menghina Rasulullah Saw. Aku berkata kepada si penghina itu ‘celakalah kamu hai kafir! Seandainya aku bisa pasti kucabut nyawamu dan segera kuhempaskan ke neraka’, kemudian Hisyam berkata kepadaku, ‘santai saja, duduklah bersama kami hai Zaid’ ‘demi Allah, seandainya tidak ada orang lain selain aku dan Yahya putraku, niscaya sudah aku hajar dia hingga mati”vii  Lantas bagaimana akhir nasib Zaid Bin Ali ra ini? Beliau ditangkap dan dibunuh, kemudian jasadnya disalib didaerah Kisanah, Kufah pada tahun 121 H.viii

Dikarenakan mengadopsi gaya barbar dan despotik, rezim Umayyah akhirnya runtuh setelah sekian lama merongrong Islam dari dalam. Situasi politik pada masa itu sangat bergejolak setelah syahidnya Zaid bin Ali ra. Dan dikarenakan para penguasa lebih memfokuskan diri dalam menjaga kekuasaannya dari tangan para pemberontak, ini mengakibatkan melonggarnya tekanan terhadap Imam Ja’far as Shadiq as dan kesempatan berharga ini digunakan dengan sebaik-baiknya oleh Imam Ja’far as Shadiq as. Dengan melihat kondisi yang sedemikian rusak ini, tentu hal yang sangat sulit untuk menegakkan kembali kebenaran. Maka sekarang mari kita lihat sikap apa yang diambil sang mahaguru ini.

Sikap Bijak Sang Maha Guru Imam Ja’far As Shadiq As

Sekelumit gambaran tentang kondisi pemikiran maupun politik pada masa Imam Ja’far tersebut telah menceritakan kepada kita betapa rumit situasi pada masa itu dan risalah imamah yang dipegang imam tak henti-hentinya mengalami ancaman. Bani Umayyah telah sekian lama memisahkan umat Islam dari Islam. Budaya jahiliyah kembali menjamur di bumi Islam. Begitu juga pemikiran-pemikiran Barat (Hellenisme) mulai mengotori kesucian aqidah yang dibangun oleh Rasul Saw, keluarga serta sahabatnya yang setia. Tak hanya kerusakan akidah, kerusakan sosial pun tak bisa lagi dielakkan. Harta umat Islam dihambur-hamburkan oleh penguasa. Maka sudah barang tentu Imam Ja’far as tidak hanya berdiam diri menyaksikan keadaan itu. Imam menganggap perlu adanya pemahaman masyarakat terhadap Islam yang murni setelah Islam Muhammadi telah dipisah dari umat Muhammad oleh bani Umayyah.

Namun demikian, Imam tidak memilih ‘angkat senjata’ sebagai cara untuk melawan para diktator. Sikap yang efektif dan jenius ini menjadi cemerlang di tengah semaraknya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam dan pembaharuan. Imam menata kembali sendi-sendi Islam. Beliau mengemas dakwahnya tidak dengan perlawanan fisik, namun tetap seperti semula yang telah dibangun oleh ayahnya (Imam Muhammad al Baqir as) yaitu mencetak generasi tercerahkan di bawah risalah Ahlulbait Rasulullah. Sistem dakwah beliau ini sangat tepat karena jika imam tidak mencerahkan umat Islam dengan risalah Muhammad Saw, tentulah Islam yang dikenal adalah Islam Umawiyah yang menyimpang dan yang penuh dengan penindasan dan kebohongan, bukan Islam Muhammadi yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Jika diringkas, ada dua macam penyimpangan besar pada masa Imam Ja’far as Shadiq As.

Pertama, penyimpangan politik para aparatur pemerintah. Kedua, penyimpangan aqidah, pemikiran serta akhlak. Sedangkan prinsip yang dipegang oleh imam untuk melakukan reformasi universal ialah: Pertamabersikap terbuka kepada kelompok-kelompok ummat yang memiliki peranan politik secara pemikiran dan gerakan. Atau dengan kata lain semakin menyiarkan akademi Ahlulbait setelah sekian lama dikaburkan oleh penguasa pada masa itu. Ini adalah prinsip umum Imam Ja’far as Shadiq as. Keduamencetak generasi cerdas yang kelak menjadi ulama yang berpemikiran modern dan memiliki pemahaman utuh tentang Islam. Dan ini adalah prinsip khusus imam.

1. Imam Dalam Menentang Penyimpangan Politik Penguasa

Sikap Imam Terhadap Penguasa

Imam menjelaskan bahwa pemerintahan diktator adalah tidak sah. Beliau melarang ummat Islam berkonsultasi kepada para penguasa. Karena merekalah yang menciptakan sengketa yang berkepanjangan. Beliau berkata “Jangan pernah sebagian dari kalian dan yang lainnya mencari keadilan hukum dari orang zalim. Kembalilah kepada salah seorang dari kalian yang memahami masalah kita. Kemudian patuhilah dia. Sesungguhnya aku telah menjadikannya sebagai hakim (bagi masalah kalian) maka carilah penyelesaian pertikaian kalian kepadanyaix

Imam mengharamkan kerjasama dengan rezim biadab, para diktator. Beliau berkata “Sesungguhnya di hari kiamat para penolong kezaliman berada dalam gejolak api neraka sampai Allah menetapkan hukumNya diantara hamba-hambaNya”x Apabila telah bekerja sama dengan pemerintah maka hendaknya dia memutuskan hubungan itu. Ali bin Hamzah berkata “Aku mempunyai seorang teman, dia salah seorang juru tulis Bani Umayyah. Dia berkata kepadaku ‘izinkan aku bertemu Imam Ja’far as’, kemudian aku mengizinkannya. Dia pun masuk kemudian memberi salam dan duduk, setelah itu dia berkata kepada Imam, ‘Demi dirimu, sesungguhnya aku berada di istana orang-orang itu. Aku mendapatkan harta yang banyak dari dunia mereka dan memicingkan mata terhadap tuntutannya’ Imam berkata ‘Seandainya Bani Umayyah tidak menemukan orang yang menulis dan mengumpulkan pajak untuk mereka, berperang untuk mereka dan menyaksikan jama’ah mereka, maka mereka tidak akan merampas hak kami. Seandainya orang-orang meninggalkan mereka dan semua yang ada di tangan mereka, mereka tidak akan menemukan apapun kecuali yang berada di tangan mereka’. Dia berkata, ‘demi dirimu, apakah ada jalan keluar bagiku?’ Imam berkata, ‘jika aku memberitahumu apakah kamu akan melaksanakannya?’, dia berkata, ‘aku akan melaksanakannya’, beliau berkata keluarkanlah semua yang kamu dapatkan dalam istana-istana mereka. Siapa yang kamu kenal dari mereka, kamu kembalikan harta itu kepadanya dan siapa yang tidak kamu kenal, kamu sedekahkan harta itu’ xi” Jelaslah, Imam Ja’far as bersikap keras dalam menghadapi para penguasa. Unsur bara’ah sangat jelas dalam pernyataan-pernyataan beliau. Walaupun tidak mengangkat senjata, Imam tetap berbaroah dari musuh-musuhnya.
.
Sikap Imam Tentang Kepemimpinan (Imamah)

Imam memberikan pendidikan kepada umat Islam tentang risalah ilahiah (ketuhanan) yang kewenangannya telah dirampas dari pangkuan umat Islam. Imam memaparkan pesan-pesan al Qur’an secara luas dan mendalam untuk menjawab doktrin-doktrin pemikiran yang berusaha membekukan risalah ilahiah. Allah Swt berfirman “Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman “sesungguhnya aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi seluruh manusia” Ibrahim berkata “juga dari keturunanku?” Allah berfirman “janjiku tidak meliputi orang-orang zalim (al Baqarah:124).

Tentang ayat ini, Imam menjelaskan bahwa Allah menjadikan Ibrahim sebagai hamba sebelum menjadikannya sebagai nabi. Allah menjadikannya sebagai nabi sebelum menjadikannya rasul. Allah menjadikannya rasul sebelum menjadikannya sebagai khalil (kekasih) dan Allah menjadikannya sebagai khalil sebelum mengangkatnya menjadi imam. Ketika Allah telah mengumpulkan semua kesempurnaan untuk Ibrahim, Dia berfirman “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Kemudian Imam melanjutkan “karena keagungan imamah di mata Ibrahim as, dia berkata ‘juga dari keturunanku’ Allah berfirman ‘janjiku tidak meliputi orang-orang zalim’”xii Imam juga menjelaskan pribadi Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as dengan Hadits Ghadir. Di mana gelar Amirul Mukminin ini diberikan oleh Nabi Muhammad Saw hanya untuk Imam Ali As.

Imam menjelaskan kepada ummat Islam tentang peristiwa yang menjadi tonggak peradaban Islam agar tidak dilupakan dan dihapus. Imam berkata tentang kakeknya Ali bin Abi Thalib as “(Ali bin Thalib as) adalah orang yang mendapat wilayah dan ditetapkan baginya imamah pada hari Ghadir Khum dengan sabda Rasul Saw dari Allah yang berbunyi ‘…Sesiapa yang menjadikan aku (Rasul Saw) sebagai pemimpinnya maka Ali adalah pemimpinnya. Ya Allah cintailah siapa saja yang menjadikannya pemimpin, musuhilah siapa saja yang memusuhinya, tolonglah siapa saja yang menolongnya, jauhilah siapa saja yang menjauhinya dan bantulah siapa saja yang membantunya’ ”xiii Dalam hal ini imam ingin menjelaskan betapa mulianya tingkat imamah dan imamah ini dipegang oleh Ali bin Abi Thalib as dan keturunannya yang suci. Maka, tentulah manusia (ummat Islam) harus menjadikan para Imam Ahlulbait sebagai rujukan mereka yang utama, bukan kepada para ulama-ulama bayaran Bani Umayyah.

Imam Dalam Menghadapi Gerakan Kebudayaan Dan Pemikiran

Imam Dalam Menghadapi Gerakan Ekstrimisme

Beliau bersikap tegas terhadap kelompok ekstrimis ini. Disebutkan bahwa imam berkata kepada Sudair “Wahai Sudair, pendengaranku, penglihatanku, rambutku, kulitku, dagingku dan darahku bebas dari mereka para ekstrimis. Allah dan rasul-Nya putus hubungan dengan mereka. Mereka tidak berada dalam agamaku dan agama ayahku dan Allah tidak akan mengumpulkanku dengan mereka satu hari pun kecuali Dia murka kepada mereka”xiv Isa bin Manshur meriwayatkan bahwa imam berdoa “Ya Allah, laknatlah Abul Khattab karena dia telah meresahkanku dalam keadaan berdiri dan duduk serta di atas tempat tidurku. Ya Allah, siksalah dia dengan panasnya besi”xv Abul Khattab adalah salah satu penyebar pemikiran ekstrim ini. Dia memilih Kufah sebagai objeknya karena dia tahu Kufah adalah basisnya para pecinta Ahlulbait.

Para ekstrimis itu meyakini bahwa sesuatu yang non-materi sangat mungkin tampak secara fisik. Seperti Jibril as yang pernah menampakkan diri sebagai seorang Baduy. Dan juga Setan berbentuk manusia yang melakukan berbagai kejahatan dan menampakkan jin ke dalam diri manusia sehingga berbicara dengan lisannya. Demikian juga mereka (kaum ekstrimis) meyakini bahwa Allah tampak dalam bentuk manusia. Pemahaman ini mendapat kecaman keras dari Imam Ja’far. Pada suatu hari Basyar Syairi (salah seorang ekstrimis) menemui imam. Saat itu pula imam mengusirnya “Pergi dariku! Allah akan melaknatmu. Allah tidak akan menaungiku dalam satu atap bersamamu selamanya!”xvi

Imam Dalam Mengajarkan Syariat

Imam Ja’far as Shadiq membuka ruang belajar secara luas untuk mengajarkan metode-metode pemahaman syariat yang benar. Disamping menghadang paham ekstrimisme dan yang sejenisnya, imam juga menghadapi gerekan-gerakan fiqih yang bertentangan dengan esensi syariat Islam. Atas dasar inilah, beliau melarang sahabatnya untuk beramal dengan cara yang non-Islami. Seperti pesan imam kepada Abban “Wahai Abban, sesungguhnya jika sunnah dikiaskan agama akan hancur”xvii Abu Hanifah mengadopsi mazhab kias ini untuk mengamalkannya sebagai salah satu sumber hukum. Namun dengan tegas imam menolak pemahaman ini. Dan berikut adalah sepenggal dialog antara Abu Hanifah dengan imam Ja’far as:

Syubrunah dan Abu Hanifah menjumpai Imam Ja’far as as Shadiq. Beliau bertanya kepada Syubrumah“Siapakah yang bersamamu ini? Dia menjawab “seseorang yang mempunyai visi dan memberikan pengaruh dalam masalah agama”. Imam Ja’far berkata: “diakah yang telah mengiaskan masalah agama berdasarkan pendapat sendiri itu?”. Dia menjawab, ”Ya”. Imam menoleh ke arah Abu Hanifah dan kemudian bertanya, “siapa namamu?” Dia menjawab “Nu’man”. Imam bertanya, “wahai Nu’man, apakah kamu mengiaskan kepalamu?” Dia menjawab, “bagaimana aku mengiaskan kepalaku?” Imam berkata, “aku tidak melihatmu melakukan sesuatu yang baik. Apakah kamu mengetahui kadar garam yang terkandung di kedua mata, kadar pahit yang ada dalam kedua telinga, kadar dingin dalam lubang hidung dan kadar manis diantara dua bibir?”

Saat itu Abu Hanifah menyatakan kekagumannya dan ketidaktahuannya. Imam bertanya lagi,“apakah kamu tahu kalimat yang awalnya adalah kufur dan akhirnya adalah iman?”Abu Hanifah menjawab, “tidak”. Kemudian Abu Hanifah memohon kepada Imam Ja’far agar menjelaskan kepadanya makna ungkapan beliau. Imam berkata, “ayahku memberitahuku dari kakekku Rasul saww, beliau bersabda, ‘sesungguhnya Allah dengan keutamaan dan kebaikannya telah menciptakan kadar garam dalam kedua mata anak-anak adam untuk membersihkan kotoran-kotoran yang terdapat di dalamnya. Menciptakannya kadar pahit pada kedua telinga sebagai tameng dari binatang. Jika binatang masuk ke dalam kepala melalui telinga dan mengarah ke otak, maka karena rasa pahit itu dia akan keluar. Allah menciptakan kadar dingin dalam kedua lubang hidung agar udara dapat dihirup oleh keduanya. Seandainya tidak demikian otak akan membusuk. Allah menciptakan kadar manis di antara dua bibir agar dapat merasakan lezatnya makanan”. Abu Hanifah memandang Imam Ja’far sambil bertanya, “beritahu aku tentang kalimat yang awalnya adalah kufur dan akhirnya iman”. Imam Ja’far menjelaskan, “sesungguhnya seorang hamba jika mengatakan ‘tidak ada Tuhan’ maka dia kafir. Jika dia melanjutkan dengan kalimat ‘selain Allah’ maka itu adalah iman”.

Imam kemudian mendekati Abu Hanifah dan berkata “wahai Nu’man, ayahku memberitahuku dari kakekku Rasul Saww bersabda ‘pertama kali yang melakukan kias dalam masalah agama dengan pendapatnya sendiri adalah Iblis. Allah berfirman kepadanya sujudlah kamu kepada Adam lalu dia berkata ‘aku lebih baik darinya, engkau ciptakan aku dari api dan engkau menciptakannya dari tanah’ ”xviii

Dengan demikian kita harus berterima kasih kepada Imam Ja’far as Shadiq as karena: Imam telah membendung gerakan Zandaqah (ateis) dari pemikiran pengikutnya. Imam telah membendung gerakan Al Jabr (pemaksaan alias doktrin fatalisme) dari pemikiran pengikutnya. Imam telah melawan Penyelewengan terhadap sejarah kehidupan rasul saww. Imam telah melawan Penyelewengan terhadap hadits nabi saww. Imam telah melawan penyelewengan terhadap tafsir Al Qur’an. Imam telah menjelaskan bahwa pemerintahan diktator adalah tidak sah. Beliau melarang umat islam berkonsultasi kepada para penguasa. Imam mengharamkan kerjasama dengan rezim biadab, para diktator. Apabila telah bekerja sama dengan pemerintah maka hendaknya dia memutuskan hubungan itu. Imam memberikan pendidikan kepada umat islam tentang risalah ilahiah (ketuhanan) yang kewenangannya telah dirampas dari pangkuan umat Islam. Imam juga menjelaskan pribadi amiril mukminin Ali bin abi thalib as dengan hadits Ghadir. Imam telah membuka ruang belajar secara luas untuk mengajarkan metode-metode pemahaman syariat yang benar.

Dan jika dilihat poin-poin diatas masih ada sampai sekarang, kita bisa melihat para pecinta Ahlulbait tidak pernah mempercayai pemikiran al Jabr (pemaksaan atau fatalisme) karena Imam Ja’far as Shadiq as dan juga ayah-ayah imam serta anak-cucunya yang suci nan mulia. Maka, apa jadinya kita kalau tidak ada sang mahaguru Imam Ja’far as Shadiq bin Muhammad al Baqir ini? Jadi, berterimakasihlah kepada Imam yang telah menjaga kemurnian risalah kakeknya Muhammad Rasulullah Saw. Bagaimana cara berterimakasih? Ada banyak cara untuk berterima kasih, salah satunya ialah Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Wahai sekalian Syi’ah, jadilah kalian penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng kami. Katakan yang baik-baik kepada manusia, jagalah lisan-lisan kalian, tahanlah dari kelebihan berbicara dan omongan yang buruk”xix Dalam kesempatan lain Imam juga bersabda: ”Hai sekalian Syiah, sesungguhnya kalian telah dinisbahkan kepada kami, maka jadilah penghias bagi kami dan jangan jadi pencoreng!”xx

Pustaka

i Ja’far Shadiq Sang Mahaguru, Al Huda 2008
ii Shahih Tirmidzi, jilid 5, hal 687, bab manaqib Muawiyah)
iii Shahih Bukhari, jilid 1, hal 169; Shahih Muslim, bab Shalat al-‘idain, jilid 2, hal 607; Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 6, hal 38
iv Al-imam As-Shodiq wa al-mazahib al-arba’ah, jilid 2, hal 122
Lisan al-mizan, jilid 2, hal 105
vi Amali al-murtadha, jilid 1, hal 284
vii Hayat al-imam al-Baqir; Dirasat wa tahlil, jilid 1, hal 72
viii Ansab al-asyraf, jilid 3, hal 439,446
ix Wasa’il as-Syi'ah, jilid 27, hal 13, dari Al-kafi , al-faqih dan at-tahdzib
Ibid, jilid 17, hal 179, dari At-tahdzib
xi Al-Kafi, jilid 5, hal 106; Biharul anwar, jilid 47, hal 138
xii Al-Mizan, jilid 2, hal 267
xiii Ad-Durr al-Mantsur, jilid 2, hal 298; Syawahid at-tanzil, jilid 1, hal 187 dll
xiv Ushul al-Kafi, jilid 1, hal 629
xv Awalim al-Ulum wa al-Ma’arif, jilid 20, hal 2
xvi Ibid, hal 400
xvii Biharul Anwar, hal 104-105
xviii Ushul al-Kafi, jilid 1, hal 58; Biharul anwar, jilid 47, hal 226
xix Biharul Anwar, jilid 68, hal 151
xx Misykat al-Anwar, hal 67