Mula Perjumpaanku dengan Islam


Oleh Annemarie Schimmel

Pada suatu masa, hiduplah seorang gadis kecil di Erfurt, sebuah kota kecil nan indah di Jerman tengah. Sebuah kota yang dihias katedral-katedral bergaya Gothik dan sekaligus pusat industri holtikultura. Mistikus besar abad pertengahan, Meister Eckhart, pernah berkhotbah di sini; Luther pernah menunaikan sumpahnya untuk menjadi biarawan dan menghabiskan hidupnya beberapa tahun di balik dinding biara Augustine.  Goethe sang sastrawan besar Jerman pun pernah bertemu dengan Napoleon di Erfurt karena jarak kota ini dari pusat kesusastraan Jerman, Weimar dan Jena, hanya beberapa jam ditempuh dengan berkuda atau berkereta.

Gadis kecil itu amat menyukai membaca dan menggambar, namun sama sekali tak menyukai kegiatan di luar ruangan. Karena ia adalah satu-satunya anak, pun lahir agak lambat, kedua orangtuanya selalu menaunginya dengan segenap kasih sayang dan penjagaan. Ayahnya yang berasal dari kota lain, juga di Jerman tengah tak jauh dari Erzgebirge, adalah seorang pegawai di Kantor Pos dan Telegraf; sementara ibunya yang dibesarkan di bagian utara negeri itu, tak jauh dari perbatasan Belanda, adalah putri dari keluarga yang selama berabad-abad hidup dari bisnis pelayaran. Ayah gadis cilik itu adalah seorang lelaki yang memiliki pembawaan lembut dan baik hati. Kesukaannya terhadap bacaan-bacaan tasawuf dari berbagai agama seakan melengkapi kecenderungan beragama istrinya yang dibesarkan dalam tradisi keagamaan kaku khas Kristen Protestan Jerman Utara, yang berjalin dengan kemampuan meramal—sebuah kelebihan yang tidak jarang dimiliki oleh mereka yang hidup berdampingan dengan laut yang sifatnya sering tak terduga. Gadis cilik itu senang menghabiskan liburan musim panasnya di desa neneknya, mendengarkan kisah-kisah mengenai keluarga mereka yang dengan gagah berani menantang gelombang besar antara Cape Horn ke India. Atau tentang kakeknya yang kehilangan perahu kecilnya di dekat Rio Grande del Sul sesudah lebih dari seratus hari berlayar dengan membawa barang-barang berharga. Semua cerita ini selalu lekat dengan keluarganya

Belakangan, adik ibunya menulis novel dan sejumlah naskah sandiwara radio mengenai kehidupan masyarakat tepi laut. Kedua orangtuanya menyukai puisi. Ayahnya sering membacakan puisi-puisi Jerman dan, belakangan, puisi klasik Prancis untuk keluarga kecilnya pada hari Minggu sore.

Si gadis kecil itu memiliki sebuah buku dongeng tentang peri-peri terbitan tahun 1827. Pada usia tujuh tahun ia mulai senang memeriksa kesalahan-kesalahan ejaan yang ia temui di buku itu: sebuah metode ortografis kuno yang kerap digunakan sebelum bahasa Jerman mengalami reformasi tahun 1900. Kebiasaan ini ternyata menjadi semacam persiapan untuk meneliti ribuan lembah naskah yangharus ia baca di kelak kemudian hari. Di dalam buku itu ada satu cerita yang nyaris dihafalnya di luar kepala –sebuah cerita yang tak ada duanya dan tak dijumpainya dalam semua buku yang ia baca sepanjang hidupnya. Dongeng itu berjudul “Padmanaba dan Hasan”, yang menceritakan kunjungan seorang suci India (Padmanaba) ke Damaskus, di mana ia mengenalkan seorang bocah Arab (Hasan) kepada misteri kehidupan batin dan dunia bawah tanah, tempat di mana peti jenazah raja yang mulia diletakkan di tengah hamparan permata. Di atas peti itu terdapat tulisan “Orang-orang tertidur, dan ketika mati baru mereka terjaga.” Sepuluh tahun kemudian, ketika gadis kecil itu berusia 18 tahun, ia mengetahui bahwa kata-kata itu adalah sebuah kalimat yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad: sosok yang teramat dicintai oleh para sufi besar di dunia Islam.

Gadis kecil itu menyukai sekolah, terutama pelajaran bahasa seperti Prancis dan Latin. Ia pernah mengejutkan guru sekolah menengahnya dengan esai pertamanya yang berjudul “Surat untuk Bonekaku” yang bercerita mengenai pemberontakan Boxer di China. Di dalam esai itu ia mengutip beberapa karakter asing dari sebuah buku terbitan British Bible Society berjudul God’s Wordin Many Languages. Seperti ayahnya, ia juga menyukai puisi. Salah satu penyair favoritnya adalah Friedrich Rickert (1788-1866), seorang penyair Orientalis terkemuka yang karya-karyanya dalam bahasa Arab dan Persia sangat memukau gadis itu. Cita-cita terbesar gadis itu adalah belajar lebih banyak mengenai kebudayaan Timur. Kekuatan mimpinya itulah barangkali yang mempertemukannya dengan guru bahasa Arabnya yang pertama, ketika ia berusia 15 tahun. Baru seminggu ia langsung tergila-gila dengan pelajarannya, karena sang guru tidak hanya mengajarinya tata-bahasa Arab tetapi juga sejarah dan kebudayaan Islam. Bagi gadis itu, seminggu berarti dari Kamis ke Kamis, hari ketika dia pergi ke kelas bahasa Arab, meskipun ia menyimpan semua minat yang menyala itu dalam hati saja. Siapa di antara teman sekelasnya yang akan mengerti, atau siapa di antara keluarga dan kenalannya yang akan menghargai seorang gadis yang mempelajari bahasa Semit pada waktu fanatisme politik dan nasionalisme begitu memekatkan udara?

Gadis itu kemudian melompati dua kelas dan lulus sekolah menengah pada usia 16 tahun. Sayang sekali untuk itu dia harus melahap materi tujuh tahun bahasa Inggris hanya dalam waktu enam bulan, dan itu membuat nilai bahasa Inggrisnya terendah di antara nilai-nilai cemerlang pelajaran lainnya. Tapi mungkin ini alasan mengapa Tuhan yang Maha Baik menganggap perlu mengirim gadis itu ke Harvard kelak untuk memperbaiki bahasa Inggrisnya.

Sebelum masuk ke universitas, si gadis harus menjalani Arbeitsdienst, masa kerja wajib di mana seorang ditempatkan di pedesaan untuk bekerja sebagai pembantu dan pekerja pertanian di wilayah miskin tanpa dibayar. Di situlah saya belajar hal-hal penting seperti membersihkan kandang babi dan memanen bit seraya bersusah payah mempertahankan bahasa Arab yang pernah saya pelajari. Tekad yang membara dan terus menggenggam erat idealisme, barangkali itu yang membuat saya menjadi satu-satunya gadis yang tidak langsung didaftarkan sebagai anggota partai Nazi –sesuatu yang sangat lumrah dijalani ketika seseorang mencapai usia 18 tahun.

Di dalam kamp kerja wajib itulah kami mendengar kabar pecahnya Perang Dunia Kedua. Peristiwa itu menjadi alasan bagi pemimpin kami untuk dengan bangga mengumumkan bahwa kami bisa tinggal lebih lama dari waktu enam bulan yang ditetapkan untuk melayani herrlicher Führer. Hormat yang tidak pernah ada untuk Führer membuat saya tak punya alasan untuk bergembira mendengar berita ini.

Ayah saya dikirim ke Berlin pada hari pertama perang pecah. Tak lama kemudian ibu mendapat kabar bahwa saya bisa dikeluarkan dari Arbeitsdienst sekiranya saya mau mempelajari ilmu-ilmu pasti. Mengapa tidak? Lagi pula, saya menyukai fisika dan membayangkan segera setelah itu saya bisa mempelajari ilmu Islam, terutama mineralogi. Setelah tiba di Berlin dan mendaftar ke Fakultas Seni dan Sains, saya melanjutkan pelajaran bahasa Arab dan mengambil kursus Seni Islam. Pada akhir trimester pertama (setiap semester ketika itu terpaksa diperpendek), pada Natal 1939, Profesor Kühnel, guru paling senior dalam bidang Seni Islam, sambil tersenyum mendorong saya untuk melupakan sains dan berkonsentrasi pada ilmu-ilmu Islam. Beliau juga berjanji akan mengangkat saya sebagai asistennya begitu studi doktoral saya selesai. Namun ini semua tak lebih dari impian. Setelah berhasil meraih gelar Ph.D pada November 1941, saya bergabung dengan Departemen Luar Negeri sebagai penerjemah. Namun karena museum bukan hal penting pada masa perang, tugas saya dialihkan ke angkatan bersenjata. Tapi 40 tahun kemudian, mimpi pertama itu benar-benar terwujud, ketika saya diundang untuk bergabung dengan Metropolitan Museum sebagai pekerja paruh waktu melakukan apa yang dulu diinginkan Kühnel, yakni bekerja di bidang kaligrafi Islam, bidang yang saya ajarkan di Harvard selama beberapa tahun.

Belajar di Berlin pada masa perang –setidaknya untuk saya– adalah seperti hidup di pengasingan yang jauh dari realitas politik. Para professor saya adalah ahli-ahli terkemuka di bidangnya masing-masing. Salah satu yang paling penting untuk saya adalah seorang perempuan professor, Annemarie von Gabain (w. 1993). Saya sangat berutang budi kepadanya karena telah memperkenalkan kepada bidang Turkologi. Saya menganggapnya sebagai kakak sendiri, apa saya. Kalau Richard Hartmann mengajarkan kepada kami mengenai pendekatan sejarah-kritis untuk mendalami sejarah dan kebudayaan Turki-Arab dan Turki-Usmani, maka Hans Heinrich Schaeder, si jenius, yang membawa kami ke pantai-pantai terjauh sejarah dan kebudayaan secara umum. Ketika mengetahui mengenai minat saya kepada Maulana Rumi (yang diawali dari membaca terjemahan bebas Rückfert atas karya-karya Rumi), beliau menyarankan saya membaca Selected Poems from the Divan-I Shams-i Tabriz karya R.A Nicholson (yang saya salin dengan tangan), dan studi-studi Louis Massignon tentang sufi-martir al Hallaj (yang dihukum mati di Baghdad pada tahun 922). Tiga bulan kemudian, tepatnya pada Natal 1940, saya memberinya kejutan dengan terjemahan karya Rumi dan Hallaj yang sampai saat ini saya anggap masih sangat berharga. Setelah perang usai, Schaeder memperkenalkan saya kepada puisi-puisi T.S Elliot, dan alih-alih melakukan kunjungan singkat ke Göttingen untuk menghadiri forum-forum diskusi mengenai puisi Persia, kami membaca Four Quartets yang baru saja tiba di mejanya. Sebagai kelanjutannya ia menyarankan saya membaca John Donne, yang puisi-puisinya sangat memukau saya. Sedemikian terpukaunya sehingga 20 tahun kemudian saya menerbitkan koleksi puisi tersebut dalam bahasa Jerman. Gaya puisi John Donne sangat mirip dengan puisi-puisi mistik Persia yang amat saya gandrungi.

Baik Schaeder maupun Kühnel menikah dengan perempuan-perempuan baik hati yang mendorong saya menekuni bidang ini. Mungkin ini karena sebagai perempuan saya tidak pernah merasa menjadi orang asing di dunia akademis, di mana perempuan memainkan peran yang sama seperti laki-laki.

Enam semester waktu belajar adalah periode yang sangat tenang. Setiap tiba waktu libur kami harus bekerja di pabrik. Sepuluh jam per-hari. Saya sering pulang dengan tangan berdarah untuk meneruskan menulis disertasi mengenai sejarah Mamluk. Saya belajar banyak dari beratnya kehidupan para perempuan di pabrik. Saya juga bersyukur atas penerimaan mereka terhadap perempuan asing yang kehadirannya memastikan beberapa orang di antara mereka bisa mengambil cuti dengan tetap dibayar. Setelah menyelesaikan masa studi, saya tidak hanya bekerja di Kementerian Luar Negeri, namun juga menyiapkan indeks mengenai sejarah Arab abad ke-16 setebal 1500 halaman yang kemudian diterbitkan di Istanbul ketika perang masih berkecamuk.

Awan kelam peperangan semakin mencekam, bom-bom semakin sering diledakkan. Saya ingat pernah berjalan kaki selama empat jam melalui jalan-jalan yang dipenuhi kobaran api untuk mencari seorang kolega, menyediakan tempat berteduh bagi teman-teman yang kehilangan segalanya, dan terus membaca situasi politik yang kian memburuk melalui tumpukan telegram yang harus kami terjemahkan di kantor. Namun, di sela-sela waktu yang ada, saya tetap setia dengan bahan-bahan mengenai dinasti Mamluk dan menulis Habilitationsschrift. Saya menyerahkan tulisan itu pada 1 April 1945, tepat pada hari kantor kami harus pindah ke Jerman tengah untuk alasan keamanan. Di sebuah desa berciri khas Sakson kami ditawan oleh tentara Amerika dan terpaksa mendekam selama seminggu di sebuah penjara bawah tanah sebelum dikirim ke Marburg. Pada saat itu pihak-pihak yang bertikai sepakat melakukan gencatan senjata. Selanjutnya kami menjadi tawanan yang dipekerjakan di asrama-asrama pelajar. Itu adalah hal terbaik yang bisa kami harapkan terjadi: setidaknya sekarang ada tempat berteduh dan makanan, meskipun sangat ketat dijatah. Segera setelah itu kami membentuk semacam universitas di pengungsian, belajar dan mengajar untuk menyesuaikan diri dengan komunitas kecil yang sebenarnya aneh itu.

Suatu hari seorang tamu penting datang mengunjungi kami. Ia adalah Friedrich Heiler, seorang ahli sejarah agama yang terkenal dan Dekan Fakultas Seni di Universitas Marburg yang kabarnya akan segera dibuka. Ia berbicara mengenai Nathan Söderblom, ketua Gerakan Ekumenis, Uskup Agung Swedia, dan juga seorang sejarawan agama (w. 1931). Meskipun kesan saya bahwa pembicara yang sangat terpelajar itu tidak memperhatikan kehadiran saya selama diskusi, namun ternyata dua bulan kemudian, ketika masa kerja di situ akan segera berakhir, ia mengundang saya datang ke rumahnya. Apakah saya bersedia untuk tinggal di Marburg? Mereka memerlukan seorang professor dalam bidang bahasa Arab dan studi-studi keislaman, menggantikan professor aktif yang ternyata adalah pengikut Nazi militan. Saya bisa dibilang sama sekali tidak siap. Dan hanya karena saya membawa satu kopi Habilitationsschrift di kopor saya –serta beberapa naskah berbahasa Persia dan Arab– saya akhirnya setuju. Akhirnya setelah tiga bulan tinggal bersama bibi saya di Jerman utara, saya menyampaikan pidato pelantikan saya pada 12 Januari 1946, ketika usia saya belum genap 24 tahun. Peristiwa itu bisa dibilang sebuah momen penting di kota sekecil Marburg. Satu-satunya perempuan di fakultas, Luise Berthold, seorang ahli Jerman Abad Pertengahan, menyambut saya dengan mengatakan, “Putriku sayang, ingatlah satu hal –lelaki adalah musuh kita!”

Meskipun demikian, saya sangat menikmati waktu-waktu mengajar di sana. Tak seorang pun bisa membayangkan, bagaimana bahagianya para guru dan murid selama tahun-tahun tersebut. Tak ada lagi perang, hanya ada kebebasan untuk berbicara, membaca buku yang sebelumnya tidak pernah kami dengar sama sekali, menyimak kuliah-kuliah mencerahkan mengenai kembalinya kaum imigran, dan meskipun perut kami hampir tak pernah kenyang, kami terus “makan” dan minum dari mata air ilmu pengetahuan. Setiap kelas –apakah itu bahasa Arab, Persia atau Turki, atau kelas pengantar kesusastraan dan seni Islam– menjanjikan petualangan, termasuk karena beberapa mahasiswa saya pasca perang itu lebih senior dibanding saya. Selain itu saya pun semakin erat berhubungan dengan Heiler dan bekerja sama dengannya untuk bidang studi sejarah agama, membantu di kelasnya untuk materi-materi keislaman dan belajar banyak mengenai pendekatan fenomenologi terhadap agama, Sejarah Gereja dan pelik-melik yang menyertai perkembangannya. Saya juga menikmati persekutuan doa Jerman yang biasa diadakan Heiler setiap hari Minggu di sebuah kapel kecil di rumahnya.

Tapi masa itu sekaligus adalah masa ketika kami harus belajar mengenai berbagai trauma yang berasal dari masa kanak-kanak maupun sesudahnya. Trauma yang terlalu perih untuk diakui, tapi sekaligus hampir takpernah disadari.

Diterjemahkan dari Bahasa Ingris oleh Nurul Agustina

Hidup Adalah Pembelajaran Tiada Henti

(Perkataan Imam Ali bin Abi Thalib As di Nisan Annemarie Schimmel: “Seluruh manusia tertidur pulas. Ketika ajal tiba, mereka baru sadar.”)

Oleh Annemarie Schimmel

Pakistan menjadi fokus studi saya setelah meninggalkan Turki. Ada banyak perjalanan yang membawa saya ke sana selama  kurun waktu beberapa tahun hingga hari ini. Saya menjadi begitu hafal setiap sudut dan tikungan dari negeri yang luas itu, tidak hanya padang-padang stepa Sind yang dihiasi titik-titik mausoleum di sana-sini, tapi juga kemudian wilayah pegunungannya di utara. Saya tidak tahu lagi, mana yang paling hebat dari 30 kali kunjungan saya ke Pakistan. Apakah episode di Islamabad ketika saya menerima penghargaan Hilal-i Pakistan –penghargaan tertinggi bagi masyarakat sipil di Pakistan– yang diberikan pada sebuah upacara yang dihadiri oleh Aga Khan? Atau perjalanan ke Khunjrab Pass yang berada di ketinggian 15.000 kaki di perbatasan Cina? Atau penerbangan di sepanjang Nanga Parbat menuju ngarai di lembah Indus? Atau keramahan luar biasa yang ditunjukkan oleh masyarakat termiskin di pedesaan, yang ditunjukkan oleh ketergesaan seorang pengawal yang memberikan segelas air kepada tamu terhormat dari Jerman? Atau mungkin perjalanan dengan helikopter kecil melintasi Balochistan di wilayah selatan negeri menuju Las Bela, lalu menuju ke gua suci Hinglaj di pegunungan Makran, sebuah tempat suci yang akhirnya mampu kami capai dengan menunggang unta?

Saya juga menyaksikan perubahan politik; berbicara panjang lebar dengan Bhutto dan Jenderal Zia ul Haqq; menyaksikan tumbuhnya industrialisasi; hilangnya pola-pola kehidupan lama secara perlahan; meningkatnya ketegangan antara faksi-faksi yang berbeda; hingga pergantian dan pembunuhan menteri dan kepala negara. Namun keragaman kultural yang sangat kaya, serta persahabatan dengan begitu banyak orang (yang biasanya mengenal saya dari seringnya saya tampil di televisi), membuat saya benar-benar menemukan rumah saya di Pakistan.

Ketertarikan saya terhadap Pakistan –dan seluruh Anak Benua tersebut– mendapatkan berbagai macam dukungan. Pada tahun 1960, sebelum mendapat panggilan dari Universitas Bonn untuk mengajar studi-studi keislaman dan bahasa-bahasa yang relevan dengan subyek itu, saya sempat membantu penyelenggaraan Kongres Internasional Sejarah Agama di Marburg. Lima tahun kemudian sejumlah kolega Amerika mengundang saya untuk membantu mereka mengorganisir kongres kedua di Claremont, California. Itu menjadi kunjungan pertama saya ke Amerika Serikat. Saya benar-benar menikmatinya, mengunjungi dari Disneyland hingga Grand Canyon dan New York, yang semuanya tak berhenti memikat hati saya. Konferensi itu sendiri secara jelas menunjukkan pentingnya pendekatan kesejarahan terhadap studi-studi agama yang diinisiasi oleh beberapa sarjana Eropa namun kemudian dikembangkan secara lebih dinamis oleh sejumlah sarjana di Amerika Utara. Tapi yang membuat saya lebih bingung dibanding tegang terhadap berbagai pendekatan ini, adalah pertanyaan dari Wilfred Cantwell Smith tentang kesediaan saya untuk bergabung dengan Harvard dan mengajar mengenai budaya Indo-Muslim. Itulah yang diidamkan oleh pimpinan Minute-Rice [1] yang terkenal, seorang Muslim India kaya, yang tergila-gila dengan puisi Urdu karya Mir (w.1810) dan Ghalib (w. 1869), yang menginginkan agar karya-karya penyair pujaannya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk memikat Barat, seperti yang dilakukan Fitzgerald terhadap Rubaiyat Omar Khayyam lebih dari seabad silam. Tidak, jawab saya; saya tidak tertarik sama sekali –Urdu bukan bagian dari studi saya. Dan Amerika? Saya tidak pernah bermimpi untuk menetap di sana.

Sampai titik itu saya masih punya alasan untuk menolak tawaran tersebut, atau setidaknya untuk bersikap ragu: setelah pindah ke Bonn pada 1961, saya menjadi editor sejak tahun 1963 untuk sebuah jurnal budaya berbahasa Arab dengan Albert Theile, salah satu dari sedikit elit jenius penulis budaya. Jurnal kami, Fikrun wa Fann, sering dipuji sebagai jurnal paling cantik yang terbit di Jerman. Saya bukan hanya bertanggungjawab atas naskah-naskah berbahasa Arabnya, namun juga dalam komposisinya. Saya belajar bagaimana membuat lay-out secara klasik, dengan menggunakan gunting dan lem hingga tercipta sebuah karya yang sempurna. Untuk memilih artikel, penulis dan ilustrasi, kami harus mengunjungi banyak sekali museum, teater, pertunjukan balet, sehingga wawasan saya terhadap karya-karya seni terbuka lebar dan memungkinkan saya mengeksplorasi minat artistik yang saya miliki: sesuatu yang dengan caranya sendiri menunjang profesi akademis saya. Meninggalkan jurnal yang saya lahirkan ini? Tidak!

Namun, siapa yang sanggup menolak tawaran dari Harvard? Saya akhirnya menerimanya, terutama karena saya tak lagi melihat ada peluang untuk promosi lebih tinggi di Jerman –ketika pimpinan saya mengatakan, “Miss Schimmel, kalau saja anda seorang laki-laki, anda akan mendapatkan jabatan!”

Kontrak saya dengan Harvard dimulai pada bulan Juli 1966, namun saya memanfaatkan bulan-bulan pertama untuk membeli buku di India dan Pakistan. Sekembalinya dari Iran, saya singgah ke Afghanistan, yang keindahan alamnya menawan hati –dan danau berwarna safir Band-i Amir itu, bukankah seperti diambil begitu saja dari mimpi kanak-kanak kita? Belakangan saya memang harus kembali beberapa kali ke negara ini, menjumpai penduduknya yang sangat ramah, menempuh perjalanan dari Sistan ke Balkh, dari Ghazni ke Herat, di mana setiap tempat dipenuhi dengan kenangan mengenai sejarah Islam dan menggemakan kembali bait-bait puisi Persia. Saya tinggal cukup lama di Lahore, lalu pindah ke India, yang di tahun-tahun berikutnya semakin saya kenal dengan baik –tidak hanya bagian utaranya yang menyimpan warisan Moghul, tapi juga bagian selatannya. Di sana saya menemukan kota-kota bekas pusat kerajaan kecil Deccan –Gulbarga, Bidar, Bijapur, Aurangabad, dan Golconda-Hyderabad. Begitu banyak saksi dan bukti mengenai warisan literatur dan artistik yang luar biasa namun sangat sedikit diketahui. Sekali lagi sebuah dunia baru dibuka untuk saya. Sebuah dunia yang akan saya coba paparkan kepada mahasiswa-mahasiswa saya di Harvard nanti. Sebuah dunia yang memungkinkan saya menawarkan bantuan ketika Cary Welch menyiapkan pameran istimewa bertajuk “INDIA!” pada tahun 1985 di Museum Metropolitan, kelak.

Pada bulan Maret 1967 saya tiba di Harvard dan mengalami badai salju yang sangat buruk pagi itu. Tak seorang pun mengingatkan saya bahwa hal itu biasa terjadi. Juga tak seorangpun merasa perlu mengenalkan saya pada rahasia administrasi di Harvard: tumpukan peraturan yang meliputi soal tingkat, makalah, pertemuan-pertemuan penting, perbedaan antara sarjana dan pasca-sarjana, dan sebagainya. Bagaimana mungkin seseorang, yang berasal dari sistem akademis yang sepenuhnya berbeda (Turki dan Jerman) diharapkan langsung memahami hal-hal tersebut? Semester pertama sungguh penuh tantangan: saya tidak hanya dipaksa untuk memberi kuliah pengantar sejarah Islam, bahasa Persia, Urdu, dan beberapa mata kuliah lain, tapi juga di setiap waktu luang saya harus nongkrong di pojok perpustakaan Widener untuk membuat daftar beratus-ratus buku berbahasa Urdu yang didatangkan dari Anak Benua tersebut. Jika sebelumnya kami hanya memiliki enam atau tujuh terbitan berbahasa Urdu –itu yang saya jumpai di katalog pertama– maka sekarang Widener bisa menyombongkan diri sebagai salah satu perpustakaan yang menyimpan karya berbahasa Urdu dan Sindhi terlengkap di Amerika Serikat.

“Harvard adalah tempat paling sunyi di dunia,” kata seorang kolega Amerika memperingatkan, dan memang hanya karena mahasiswa-mahasiswa yang luar biasalah saya sanggup bertahan melewati tahun-tahun pertama yang sungguh sulit. Mereka adalah mahasiswa dari India, Pakistan, dari Carolina dan Pantai Barat, dari Iran dan dunia Arab, penganut Yesuit, Muslim dan Budhis. Merekalah anak-anak saya, yang menolong saya melewati masa-masa nyaris putus asa, serta yang datang kepada saya untuk meminta bantuan atas persoalan yang mereka hadapi (baik terkait pendidikan maupun problem pribadi), dan dengan demikian membantu mengatasi persoalan saya sendiri. Kemudian, sebagaimana saya mengalami Istambul dari kacamata penyair, demikian pula saya belajar mengenai “para wanita Cambridge yang hidup dengan jiwa yang utuh” melalui puisi E.E. Cummings.

Masalahnya adalah saya harus mengajar dalam bahasa yang bukan bahasa asli saya, dan meskipun saya sangat menikmati mengajar dalam bahasa Turki, saya selalu ingat pengalaman ketika saya hampir gagal dalam pelajaran bahasa Inggris ketika duduk di bangku SMA, meskipun ketika itu saya sudah menerbitkan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Buruknya lagi, di Jerman saya bisa memanfaatkan karya-karya terjemahan puitik yang luar biasa dari puisi Timur yang ditulis sejak tahun 1810, dan ketika karya yang diperlukan tidak tersedia maka saya akan menerjemahkannya sendiri. Tapi di sini saya seperti bisu, karena tidak bisa memberikan penjelasan harta karun ini kepada para mahasiswa –atau setidaknya itu yang saya pikir.

Ketika Harvard menawari posisi tetap pada tahun 1970, saya merasa lebih aman dengan pengaturan untuk mengajar satu semester dengan beban dua kali lipat, sehingga saya bisa menghabiskan hampir seluruh musim gugur di Jerman dan Anak Benua India, saya kira akan berkontribusi positif baik terhadap riset saya sendiri maupun mahasiswa saya. Ketika akhirnya pengaturan itu diterima oleh pihak universitas, maka itu terutama disebabkan oleh upaya dan jaminan komisaris Minute-Rice, Mr. James R. Cherry, yang persahabatan serta nasihat-nasihat bijaknya terus menemani sejak saya pertama kali menginjakkan kaki ke negeri ini. Selama selang waktu tersebut, terutama setelah saya pindah ke Eliot House, saya semakin merasa menjadi anggota sejati komunitas Harvard, bertemu dengan kolega-kolega yang berasal dari latar belakang dan spesialisasi berbeda di Senior Common Room –sesuatu yang oleh sekelompok kecil anggota departemen “eksotis” perlukan untuk membangun sensitivitas terhadap aneka persoalan yang dihadapi oleh sebuah universitas elit dan ternama.

Agak aneh karena meskipun saya hidup di tiga benua, namun produktivitas menulis saya terus tumbuh. Amerika Serikat memaksa saya untuk menulis dalam bahasa Inggris, yang artinya saya menjangkau lebih banyak pembaca ketimbang sebelumnya, ketika saya menulis dalam bahasa Jerman. Saya juga menikmati kesempatan untuk mempelajari berbagai hal mengenai Amerika Utara, melalui berbagai seminar dan konferensi yang mengantar saya ke kampus-kampus utama. Di mana-mana saya berjumpa dengan teman. UCLA adalah salah satu yang hampir secara rutin saya kunjungi untuk menghadiri konferensi Levi-della-Vida, dan di salah satu konferensi tersebut, tanpa saya duga, saya menerima penghargaan Levi-della-Vida pada tahun 1987. Lalu Salt Lake City dan pemandangan alam yang amat memukau di selatan Utah; kemudian Eugene (Oregon) dan Dallas; Chapel Hill dan Toronto serta masih banyak lainnya; kemudian Chicago dengan sekelompok ahli sejarah agama yang memasukkan saya ke jajaran editor Encyclopedia of Religion-nya Mircea Eliade yang sangat prestisius. Juga harus saya sebutkan kuliah-kuliah ACLS dalam Sejarah Agama pada musim semi 1980, yang memperjalankan saya dari Tennessee dan Duke ke Edmonton, Alberta. Saya kira saya sudah memecahkan rekor jumlah mata kuliah yang diajarkan mengenai aspek-aspek puitik sufisme dalam Islam, yang kemudian terbit dengan judul Through a Veil. Waktu yang saya habiskan di seberang lautan juga sebagian besarnya digunakan untuk memberikan kuliah dari Swiss ke Skandinavia, dari Praha ke Australia, dari Mesir ke Yaman, dan juga berpartisipasi dalam berbagai perayaan terkait 2500 tahun Iran pada 1971.

Saya sering ditanya apakah tidak meletihkan menjalani hidup yang demikian: dari kelas ke kelas, menulis, dan membicarakan berbagai topik di berbagai kesempatan. Ya, mungkin demikian pada waktu-waktu tertentu,  namun suka cita yang dialami seseorang ketika bertemu dengan demikian banyak pribadi yang menarik, menyibukkan diri dengan diskusi-diskusi yang hidup setelah kuliah usai –sambil sarapan, makan siang atau makan malam– sudah tentu sangat menyemangati, karena itu semua memenuhi pikiran kita dengan ide-ide segar. Bahkan pertanyaan bodoh dari seorang wartawan yang tak terlatih, atau pertanyaan sok tahu dari seorang pelajar SMA, semuanya menjadi petunjuk bahwa kita harus menyelesaikan persoalan dengan lebih taktis, atau memformulasikan jawaban dengan lebih jelas. Sudah barang tentu, pertanyaan yang paling sering diulang, “Bagaimana mungkin, sebagai perempuan anda tertarik dengan Islam dan semua itu?” akan membuat saya hilang sabar dan bahkan marah!

Lingkaran kesarjanaan saya, yang hampir bisa disamakan dengan kehidupan saya sendiri, kian meluas. Kenyataan bahwa pada sepupu saya Paul Schimmel (yang namanya diambil dari almarhum ayah saya yang tidak pernah mengenalnya) juga mengajar di MIT dan terpilih sebagai anggota American Academy of Arts and Sciences persis pada hari yang sama dengan saya sendiri, terus menjadi sumber kebahagiaan untuk saya. Saya bangga terhadapnya dan keluarganya yang penuh kasih, terutama pada dua anak perempuannya yang sangat berminat terhadap kebudayaan Islam.

Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa menyaksikan perkembangan para mahasiswa (beberapa di antara mereka sekarang sudah pensiun sebagai duta besar, atau menjadi guru besar senior). Tapi juga tak terkatakan rasanya melihat bagaimana bibit-bibit spritualitas yang sejak lama disemai bersemi dan tumbuh menjadi bunga-bunga indah dan buah yang membanggakan. Ketika saya mulai belajar bagaimana menerapkan pendekatan fenomenologis terhadap agama, yang secara mudah diartikan sebagai memahami manifestasi eksternal dari agama, untuk kemudian secara bertahap masuk ke inti ajaran agama, saya yakin (dan masih terus yakin) bahwa pendekatan ini akan mengantarkan pada toleransi yang amat kita butuhkan sekarang ini, tanpa kekhawatiran akan lebur dalam pandangan-pandangan “sinkretistik” yang membahayakan imannya dan mengaburkan semua perbedaan.

Tapi bagaimana saya berani bermimpi bahwa suatu hari (tepatnya pada 1980) saya akan terpilih sebagai Presiden dari International Association of the History of Religion, perempuan pertama dan Islamolog pertama yang menduduki posisi ini? Atau bagaimana orang akan meramalkan bahwa pada 1992 saya akan menyampaikan kuliah di Gifford Lectures di Edinburgh, sesuatu yang selalu menjadi impian setiap ahli sejarah agama, teolog dan filosof? Kalau saya mengingat lagi bacaan Persia saya di semester kedua, ketika saya berusia 17 tahun, Safarnamah, karya filsuf besar Ismailiah abad pertengahan Nasir-i-Khusraw (wafat setelah 1071), apakah saya membayangkan bahwa beberapa mahasiswa terbaik saya di Harvard adalah anggota komunitas Ismaili, atau bahwa saya akan berhubungan erat dengan Institute of Ismaili Studies di London, di mana saya selalu gembira mengajar selama musim panas dan untuk siapa saya rela menerjemahkan (kali ini, syukurlah, ke dalam bahasa Inggris!) puisi-puisi dari buku asli Nasir-i-Khusraw?

Dan ketika saya merasa nyaris putus asa di Arbeitsdients sebelum memasuki universitas, menulis surat kepada seorang imam di Masjid Berlin memohon bantuannya untuk mengenalkan pada sebuah keluarga di Lahore sehingga saya bisa tinggal di sana untuk belajar bahasa Urdu (yang tentu nyaris terdengar sebagai sebuah utopia pada waktu itu!) –siapa yang akan menyangka bahwa 40 tahun kemudian, pada 1982, salah satu lorong paling indah di Lahore akan dinamai dengan nama saya?

Seluruh hidup saya, yang lingkarannya semakin luas, sebagaimana dikatakan Rilke, adalah sebuah proses belajar tanpa henti. Sudah barang tentu, dari belajar dan belajar lagi tentang sejarah, kadang membuat saya ngeri mengamati perubahan perspektif yang terus-menerus terjadi dalam ranah politik di negara-negara yang dekat di hati saya. Mungkin, ketika kita mengamati masyarakat-masyarakat Islam (tentu saja bukan hanya Islam) di masa modern, kita jadi memiliki keterampilan untuk mengingat pasang surut sejarah, sebagaimana dikatakan oleh sejarawan Afrika Utara abad ke-14, Ibn Khaldun, dalam Muqaddimah-nya yang terkenal –dan sempat saya terjemahkan dahulu kala. Selain itu, dengan mempelajari sejarah orang akan cenderung (dan ini juga saya rasakan) untuk mencari kekuatan tetap yang berdiri di bawah samudra, di balik permukaan yang penuh gelombang peristiwa.

Orangtua saya yang bijaksana mengajarkan hal ini dengan cara yang berbeda. Tanpa pemahaman ayah mengenai inti ajaran agama, dan tanpa kebijaksanaan ibu yang demikian mendalam serta kesabarannya yang seolah tanpa batas menghadapi putrinya yang cenderung aneh, juga dukungan tanpa letihnya, bisa dipastikan saya akan menjalani hidup yang berbeda. Sebagai gadis desa yang tak pernah menamatkan pendidikan menengahnya dan murni seorang otodidak, ibu membaca naskah-naskah yang saya tulis dan mengoreksi buku-buku serta artikel berbahasa Jermah saya serta bertindak, seperti diistilahkannya, sebagai “suara orang kebanyakan”. Dengan demikian mengajarkan pada saya untuk menulis dengan membayangkan para pembaca awam. Namun di sisi lain, ibu juga menjadi penyeimbang bagi kecenderungan saya tenggelam terlalu dalam di dalam mimpi-mimpi spiritualitas cinta, dan karena ibu sendiri adalah seorang yang supersensitif, ia menjaga agar saya tidak kehilangan ketenangan dan pemikiran kritis saya.

Walaupun tampaknya masa belajar itu akan segera berakhir, saya mengerti bahwa setiap pengalaman –bahkan yang paling tidak menyenangkan sekalipun– mengajarkan sesuatu kepada saya: bahwa setiap pengalaman itu harus disatukan untuk memperkaya keseluruhan kehidupan. Tidak ada kata akhir untuk belajar, sebagaimana tidak ada akhir untuk kehidupan. Iqbal menyatakan ini dalam kalimatnya yang sangat berani: “Surga itu adalah tak ada hari libur!” katanya, merujuk pada Goethe dan para pemikir lain. Bahwa kehidupan yang abadi sekalipun adalah sebuah proses bertumbuh yang terus-menerus, dan itu artinya belajar –belajar dengan cara yang misterius mengenai misteri-misteri keilahian yang kerap tak terduga, yang menyembunyikan diri di balik berbagai pertanda. Penderitaan adalah bagian dari proses ini, dan salah satu tugas paling sulit dalam hidup ini adalah belajar kesabaran.

Belajar, untuk saya, adalah proses mentransformasi pengetahuan dan pengalaman kepada kebijaksanaan dan cinta, untuk menjadi matang. Seperti dikatakan oleh sebuah nasihat dari Timur, bahwa batu biasapun bisa berubah menjadi rubi jika ia mengizinkan dirinya terbakar cahaya matahari, dan meneteskan darah untuk sebuah pengorbanan yang agung. Mungkin beberapa bait puisi yang saya tulis setelah mengunjungi musoleum Maulana Rumi di Konya berikut ini secara lebih tepat mengungkapkan apa arti belajar untuk saya:

Kau tak akan pernah mencapai gunung perak itu
yang tampak, seperti kumpulan awan sukacita,
dalam cahaya malam

Kau tidak akan pernah melintasi danau penuh garam
yang terus tersenyum kepadamu
dalam kabut pagi

Setiap langkah di jalan ini akan membawamu semakin jauh
dari rumah, dari bunga-bunga, dari musim semi.
terkadang bayangan awan akan meneduhi jalanmu
terkadang kau mendapati dirimu beristirah di puing-puing yang ditinggalkan kafilah,
mencari Kebenaran dari balik kepulan asap jelaga,
terkadang kau melangkah beberapa depa
bersama jiwa yang kau kira keluarga
hanya untuk kehilangan dirinya

Kau akan terus melangkah, tercabik awan,
terbakar matahari,
sementara seruling sang gembala
mengabarkan kepadamu tentang “Jalan darah”.

Sampai kau tak sanggup lagi menangis
sampai danau menjadi asin
oleh air matamu yang mengering

yang mencerminkan gunung sukacita
yang lebih dekat kepadamu, daripada hatimu.

(Annemarie Schimmel, 1993)

[1] Minute-Rice adalah merek nasi instan terkenal yang pertama kali diperkenalkan oleh General Food pada tahun 1949.

Diterjemahkan dari Bahasa Ingris oleh Nurul Agustina