Hikmah Abadi Syahadah Imam Husain


Halaman-halaman berikut adalah catatan dari pidato yang saya sampaikan di London pada Majlis Ashura pada hari Kamis 28 Mei, 1931 (Muharram 1350 H), di Hotel Waldorf. Catatan tersebut telah dikoreksi seperlunya dan sedikit diperluas. Majlis tersebut merupakan peringatan besar, yang dihadiri atas undangan dari Mr A.S M. Anik. Nawab Sir Umar Hayat Khan, Tiwana, para ketua dan anggota semua kelompok mazhab Islam, juga yang bukan Muslim, datang dengan penuh antusias dalam rangka menghormati peringatan Syuhada Agung Islam. Dengan menerbitkan dalam seri edaran Progressive Islam, diharapkan catatan ini bisa menjangkau publik yang lebih luas, tidak hanya para hadirin. Diharapkan juga, ini akan membantu memperkuat ikatan persaudaraan yang mempersatukan semua yang menginginkan persaudaraan sejati yang dianjurkan oleh Nabi pada khutbah terakhir beliau.

Oleh Abdullah Yusuf Ali

Kesedihan Sebagai Ikatan Persatuan

Saya akan berbicara pada siang hari ini tentang topik yang sangat serius, kesyahidan Imam Husain di Karbala, yang sedang kita peringati sekarang ini. Sebagaimana ketua majlis telah ungkapkan dengan tepat, peristiwa itu merupakan salah satu saat yang menakjubkan dalam sejarah agama kita, yang disepakati semua mazhab. Lebih dari itu, di ruangan ini saya mendapatkan kehormatan untuk berbicara kepada beberapa orang dari agama yang berbeda, tetapi saya memberanikan diri untuk berfikir bahwa pandangan yang akan saya kedepankan hari ini mungkin akan membuat mereka tertarik dari kepentingan aspek sejarah, moral dan spiritual. Sungguh, ketika kita melihat latar belakang dari tragedi besar tersebut dan semua yang terjadi pada 1289 tahun komariah yang lewat, kita tidak bisa memungkiri bahwa beberapa peristiwa menyedihkan dan kematian adalah hal-hal yang bisa membawa, atau mengarahkan kita kepada persatuan kemanusiaan.

Bagaimana Kesyahidan Menyembuhkan Perpecahan

Ketika kita mengundang orang tak dikenal atau tamu dan menerima mereka sebagai bagian dari keluarga, itu berarti menunjukkan besarnya keramahan kita kepada mereka. Peristiwa yang akan saya jelaskan merujuk kepada beberapa peristiwa yang menyentuh perasaan dalam aspek spiritual dari sejarah kita . Kita meminta saudara kita dari agama lain untuk hadir dan berbagi pemikiran yang terungkap dari peristiwa tersebut. Sesungguhnya, semua pemerhati sejarah mengakui bahwa horor yang terjadi pada peristiwa besar Karbala bahkan lebih bisa, dibanding cara lain, mempersatukan bermacam faksi yang bertikai pada periode awal sejarah Islam itu. Ada ungkapan lama Persia untuk menghormati Nabi:

“Tu barae wasl kardan amadi; Ni barae fasl kardan amadi” (Engkau datang untuk mempersatukan dunia, bukan memecahbelah).

Pernyataan ini telah diteladankan dengan indah oleh kesedihan, penderitaan dan akhirnya kesyahidan Imam Husain.

Peringatan Kemuliaan

Ada kecenderungan dalam sejarah kita untuk merayakan peristiwa dengan menangis dan meratap atau kadang dengan simbol seperti Tazia di India – beberapa orang menyebutnya Taboot (peringatan kesedihan dengan menyakiti badan). Simbolisme atau lambang yang nyata kadang berguna pada situasi tertentu untuk pengkristalan ide. Tapi saya pikir Muslim di India sekarang ini lebih siap untuk mengadopsi bentuk perayaan kesyahidan yang lebih efektip dengan merenungkan kemuliaan dari para syuhada, mencoba mengerti intisari dari peristiwa yang terjadi, dan mengambil pelajaran moral dan spiritual yang didapat untuk kehidupannya sendiri. Dari titik pandang itu saya pikir anda sepakat bahwa adalah bagus kita bisa duduk bersama, bahkan dari agama yang beda, dan mempelajari peristiwa besar sejarah dimana diteladankan kemuliaan yang menggetarkan jiwa seperti mereka yang teguh iman, yang keberaniannya bergeming, yang berfikir untuk kepentingan orang lain, yang rela mengorbankan diri, yang penuh ketabahan dalam kebenaran dan yang tidak gentar memerangi kebatilan. Islam punya catatan sejarah yang memperlihatkan keintiman yang indah, dengan penderitaan, dengan perjuangan spiritual yang tak ada bandingannya. Catatan sejarah yang sangat berharga tersebut, saya sesalkan, sering terlupakan. Sangatlah penting sekali untuk memberi perhatian kepada catatan sejarah itu, perhatian yang terus menerus, perhatian dari orang-orang kita sendiri, juga perhatian dari mereka yang tertarik dengan kebenaran sejarah dan agama. Jika ada yang bernilai dalam sejarah Islam itu bukanlah perang, atau politik, atau ekspansi yang brilian, atau penaklukan yang agung atau bahkan intelektualitas yang dicapai orang dahulu dan diturunkan kepada kita. Dalam segi ini, sejarah kita, seperti sejarah yang lain, punya kecemerlangan dan kegelapan. Apa yang perlu ditekankan adalah semangat persatuan dalam persaudaraan dari keberanian yang bergeming dalam kehidupan moral dan spiritual.

Rencana Pembahasan

Saya mengusulkan pertama-tama membahas latar belakang geografis dan sejarah. Kemudian secara singkat peristiwa aktual yang terjadi pada bulan Muharam dan akhirnya memberikan perhatian pada pelajaran agung yang bisa kita pelajari dari peristiwa itu.

Gambaran Geografis

Dalam rangka menjelaskan gambaran geografis diseputar tempat dimana tragedi besar ini terjadi, saya merasa beruntung punya ingatan pribadi tentang hal itu. Mereka membuat gambaran yang jelas di benak saya dan mungkin bisa membantu anda memahami. Ketika saya mengunjungi tempat-tempat itu pada tahun 1928, saya ingat saya datang dari Baghdad ke seluruh tempat yang dilewati oleh sungai Euphrat. Saat saya menyeberang sungai dengan perahu di Al-Musaiyib pada pagi yang cerah di bulan April, benak saya meloncat ke abad-abad yang lewat. Di sisi kiri aliran sungai anda mendapatkan tanah kuno klasik dari sejarah Babilonia, stasiun kereta Hilla, reruntuhan kota Babilon, menyaksikan salah satu peradaban kuno yang besar. Gambaran yang dikaburkan debu bahwa hanya pada tahun-tahun terakhir kita mulai menyadari kebesaran dan keagungannya. Lalu anda mendapatkan sistem aliran sungai besar Eufrat, dinamai Furat, sebuah sungai yang tiada bandingnya. Sumber air yang berhulu dari berbagai tempat di pegunungan Armenia Timur, mengalir kebawah meliuk-liuk melewati daerah perbukitan, dan akhirnya melingkari sisi gurun pasir, seperti yang kita ketahui sekarang. Disetiap tempat sungai bercabang atau terhubung dengan kanal, sungai itu merubah gurun menjadi daerah perkebunan buah-buahan, yang dalam ungkapan lukisan, telah membuat gurun mekar seperti mawar. Aliran ini melingkari sisi Timur gurun Suriah dan mengalir ke daerah rawa. Di bagian yang tidak jauh dari Karbala sendiri terdapat danau-danau yang menampung airnya dan menjadi sumber-air untuk keperluan hidup. Kebawah lagi sungai ini bersatu dengan sungai lainnya, yaitu Tigris, dan gabungan aliran sungai ini dikenal sebagai Shatt-al-Arab yang mengalir ke Teluk Persia.

Air Melimpah Dan Tragedi Kehausan

Dari jaman dahulu bagian bawah Eufrat ini adalan perkebunan. Bayi dari peradaban awal, tempat pertemuan antara orang Sumeria dan Arab, dan kemudian antara orang Persia dan Arab. Tempat yang subur, pengairan yang bagus dengan pohon-pohon korma dan delima. Perkebunan penuh buah-buahan yang hasilnya dikirim ke kota-kota padat penduduk dan kegenitannya menarik Arab nomaden dari gurun dengan ternak gembalaannya. Sangatlah tragis bahwa di bagian batas dari tempat air melimpah, telah terjadi tragedi terhadap orang orang mulia yang kehausan dan dibantai karena menolak tunduk kepada kekuatan batil. Kata-kata penyair Inggris: ”Air, Air dimana-mana tapi tiada setetes minuman.” membantu gambaran anda tentang daerah perbatasan antara air melimpah dan tanah yang tandus ini.

Karbala dan Kubahnya Yang Besar

Saya masih ingat suasananya ketika saya mendekati Karbala dari arah Timur. Sinar mentari pagi menyinari Gumbaz-i-Faiz, kubah besar yang memahkotai bangunan tempat makam Imam Husain. Karbala sebenarnya terletak pada salah satu rute kafilah besar yang melintasi gurun. Kota sungai Kufa sekarang, yang dahulu pernah jadi ibukota kekhalifahan, hanyalah sebuah dusun kecil dan kota Najaf terkenal dengan makam Imam Ali, tapi kecil nilai komersilnya. Karbala, terletak di batas gurun, adalah sebuah pasar dan tempat pertemuan juga tempat ziarah suci. Tempat ini merupakan pelabuhan di gurun, mirip seperti Basra, yang terletak ke bawah lagi, yang merupakan pelabuhan di Teluk Persia. Jalan ke petirahan (mausoleum) terawat dengan indah, dan dilewati peziarah sepanjang tahun dari seluruh dunia. Lantai yang tersusun penuh warna menghiasi bangunan. Ke bagian dalam, di langit-langit dan bagian atas dinding, dipenuhi mosaik kaca. Kaca yang menangkap dan memantulkan cahaya. Pantulan cahaya yang menyorot dikombinasikan dengan ketenangan bangunan tertutup. Makamnya sendiri seperti pagar bergaris-garis, dan dibawah permukaannya ada bentuk gua, tempat dimana Syuhada menemui kesyahidan. Kota Najaf terletak sekitar 40 mil ke arah Selatan, dengan makam Imam Ali di lantai yang tinggi. Anda bisa melihat kubah emas dari jarak bermil-mil. Hanya empat mil dari Najaf dan terhubung dengan jalur trem, adalah reruntuhan kota Kufah. Mesjidnya besar tapi jarang dipergunakan. Kubah biru dan Mihrab dengan lantai keramik menjadi saksi kebesaran tempat ini pada jaman dahulu.

Kota-Kota Dan Kebudayaannya

Bangunan-bangunan di Kufa dan Basra, dua tempat dari Kerajaan Islam pada tahun ke 16 Hijriah, adalah simbol nyata bagaimana Islam memperlihatkan kekuasaannya dan membangun peradaban, tidak hanya dari aspek militer, tapi bidang moral dan sosial dan bidang ilmu pengetahuan dan seni. Kota-kota kuno yang merosot tidak mengisi sistem nilainya, kecuali dengan kekunoan dan kemerosotan yang tergantikan. Tidak juga diisi oleh sistem nilai pada awal kota terbentuk. Sistem nilai itu akan selalu dinilai, diuji, dibuang dan diperbaharui oleh karya tangannya sendiri. Selalu ada pihak yang bertahan dengan sistem nilai kuno, seperti kota Damaskus misalnya, yang mencintai kemudahan hidup dan jalan yang sedikit tantangan. Tetapi jiwa-jiwa yang besar berkembang mencapai gagasan-gagasan baru, juga tempat-tempat baru. Mereka merasakan bahwa sistem nilai lama penuh dengan kebusukan yang membahayakan untuk meraih nilai kehidupan yang lebih tinggi. Bentrokan diantara sistem nilai ini adalah bagian dari tragedi Karbala. Di balik bangunan kota-kota baru ini sering lahir pengembangan gagasan-gagasan baru. Mari kita perhatikan permasalahannya lebih rinci lagi. Akan terungkap dan mengalir keluar bagian menarik dari sejarah yang tersembunyi.

Perkembangan Kota Mekah dan Madinah

Kota-kota besar Islam pada kelahirannya adalah Mekah dan Madinah. Kota Mekah, pusat ziarah Arab kuno tempat lahir Nabi, menolak ajaran Nabi dan mengusirnya keluar. Sistem pemujaannya sudah merosot, sistem kesukuan yang eksklusif sudah merosot, kegarangannya terhadap Guru dari Cahaya Baru sudah merosot. Nabu mengibas debu di kakinya dan pergi ke Madinah. Kota itu adalah Yastrib, dengan air melimpah dan dengan populasi Yahudi yang cukup besar. Kota itu menerima Nabi dengan antusiasme terhadap ajaran Nabi, dan memberikan perlindungan kepadanya dan sahabatnya (Muhajirin) dan penolongnya (Anshar). Nabi mereformasi dan menamakannya Kota Cahaya baru. Mekah, dengan pemujaan kuno dan kepercayaan kuno, mencoba menaklukan Cahaya baru ini dan menghancurkannya. Jumlah orang Mekah lebih banyak. Tetapi rencana Tuhan memenangkan Cahaya dan menaklukkan Mekah kuno. Nabi membangun sambil menghancurkan bentuk pemujaan kuno, dan menyalakan mercusuar baru di Mekah – mercusuar dari persatuan Arab dan persaudaraan manusia. Saat Nabi wafat, semangatnya tetap tinggal. Semangat yang menginspirasikan masyarakatnya dan membuat kemenangan demi kemenangan. Ketika kemenangan moral atau spiritual dan materi jalan bersamaan, semangat kemanusiaan ikut berkembang. Tetapi kadang ada kemenangan materi dengan kejatuhan spiritual, dan kadang ada kemenangan spiritual dengan kejatuhan materi, dan kemudian terjadilah tragedi.

Semangat Damaskus

Perkembangan Islam pertama adalah ke arah Suriah, dimana kekuasaan terpusat di kota Damaskus. Diantara kota yang ada, mungkin kota ini tertua di dunia. Pasarnya ditumpahi oleh orang-orang dari seluruh bangsa dan kemewahan dari segala bangsa ada disini. Jika anda datang ke arah Barat dari gurun Suriah, seperti yang saya lakukan, akan merasakan perbedaan yang jelas, perbedaan negara dan orang-orangnya. Dari pasir gurun kering anda datang ke mata air, kebun-kebun anggur, anggrek dan bising kota. Dari Arab yang sederhana, kekar, merdeka dan jujur anda datang ke Suriah yang lembut, mewah dan rumit. Perbedaan ini dipaksakan kepada kaum muslim ketika Damaskus menjadi kota Islam. Mereka ada dalam atmosfir yang beda. Beberapa larut dalam pengaruh lembut dari ambisi, kemewahan, kebanggaan ras, cinta kemudahan dan sebagainya. Islam selalu berdiri sebagai juara kemuliaan moral yang tegas. Dia tidak berkompromi dengan kejahatan dalam berbagai bentuk, dengan kemewahan, dengan kemalasan, dengan kegenitan duniawi. Dia menolak diri dari hal-hal tersebut. Walaupun begitu orang yang seharusnya berbuat begitu, menjadi lembek di Damaskus. Mereka meniru pangeran dunia yang merosot dibanding bertahan menjadi pemimpin pemikiran spiritual. Disiplin dikendurkan dan gubernur berambisi menjadi lebih besar daripada Khalifah. Hal ini melahirkan buah pahit di kemudian hari.

Tipuan-Tipuan Kekayaan

Sementara itu Persia masuk ke dalam kekuasaan Muslim. Ketika Medain dikuasai di tahun 16 Hijriah, pertempuran Jalula menghancurkan pertahanan Persia, pampasan perang dibawa ke Madinah- permata, mutiara, rubi, berlian, pedang emas dan perak. Perayaan besar diadakan untuk menghormati kemenangan besar dan pahlawan-pahlawan tentara Arab. Di tengah perayaan mereka menemukan Khalifah sedang menangis. Seseorang bertanya kepadanya, ”Apa! Waktu bergembira dan engkau menangis?” ”Ya.”, ujarnya ”Aku meramalkan kekayaan akan menjadi tipuan, sumber keduniawian dan dengki, dan akhirnya malapetaka pada rakyatku.” Karena Arab menghargai, diatas segalanya, kesederhanaan hidup, keterbukaan, dan keberanian di depan bahaya. Wanitanya bertempur bersama mereka dan berbagi bahaya. Mereka bukan makhluk yang terpenjara oleh kesenangan indrawi. Mereka menunjukkan kegagahan pada ronde awal pertempuran di daerah kepala Teluk Persia. Ketika tertekan, wanita mereka membalikkan keadaan. Mereka membuat kerudung menjadi bendera dan ikut berbaris dalam barisan tempur. Lawan salah menafsirkan dan menganggapnya sebagai bantuan pasukan baru dan meninggalkan pertempuran. Kemudian kekalahan yang menghampiri berbalik menjadi kemenangan.

Basra dan Kufah: Perencanaan Kota

Di Mesopotamia muslimin tidak membuat basis kekuasaannya pada kota-kota Persia kuno dan merosot, tetapi membangun tempat baru untuk mereka. Pertama kali dibangun adalah Basra di daerah kepala Teluk Persia, di tahun 17 Hijriah. Dan menjadi Kota Besar! Bukan kebesaran dalam perang dan penaklukan, bukan pula dalam perdagangan dan jual beli, tetapi dalam pengetahuan dan kebudayaan pada puncaknya; tapi sayangnya ! Juga kebesaran dalam semangat perpecahan dan kemerosotan pada hari-hari buruknya ! Tetapi juga situasi dan iklimnya tidak cocok sama sekali untuk karakter Arab. Kota ini rendah, lembab dan melelahkan. Di tahun yang sama orang Arab membangun kota lain dekat Teluk dan berfungsi sebagai pelabuhan di gurun, sama seperti Karbala di kemudian hari. Kota ini adalah Kufah, dibangun pada tahun yang sama seperti Basra, tapi dengan iklim yang lebih segar. Kota ini merupakan kota ekperimen pertama kali yang dibangun dengan perencanaan dalam pemerintahan Islam. Di pusat kota ada kompleks untuk mesjid besar. Kompleks ini dikitari dengan jalan-jalan yang sejuk karena ditutupi bayangan. Kompleks lain dibuat terpisah khusus untuk lalu lintas perdagangan. Jalan-jalan lurus saling bersimpangan dan lebar jalan dibuat sama. Jalan umum utama untuk lalu lintas (jangan bayangkan seperti lalu lintas di Charing Cross, Inggris) dibuat dengan lebar 60 kaki, jalan yang lebih kecil lebarnya 30 kaki, dan bahkan ada jalur kecil untuk pejalan kaki yang diatur sebesar 10.5 kaki. Kufa merupakan pusat pencerahan dan belajar. Imam Ali tinggal dan wafat disana.

Saingan dan Racun Damaskus

Tetapi saingannya, kota Damaskus, ditambunkan oleh kemewahan dan kebesaran Byzantium. Kejayaan yang keropos menggantikan dasar-dasar kesetiaan dan kemuliaan militer. Racun itu menyebar ke seluruh dunia Islam. Gubernur ingin menjadi raja. Kemegahan dan cinta diri, kemudahan dan kemalasan dan foya foya tumbuh sebagai kanker; anggur dan minuman keras, skeptisisme, sinisme dan penyakit sosial menjadi ganas sampai-sampai manusia-manusia Tuhan ditenggelamkan oleh pelecehan. Mekah, yang menjadi simbol pusat spiritual, diabaikan dan dilecehkan. Damaskus dan Suriah menjadi pusat keduniawian dan kesombongan yang memotong akar-akar Islam.

Husain Yang Benar Menolak Tunduk Kepada Keduniawian Dan Kekuasaan

Kita telah memasuki cerita pada tahun 60 Hijriah. Yazid memegang kekuasaan di Damaskus. Dia tidak peduli kepada kesucian manusia. Dia bahkan tidak tertarik pada masalah sehari-hari pemerintahan. Kesukaannya adalah berburu dan dia haus kuasa untuk kebanggaan diri. Disiplin dan penjagaan diri, keteguhan iman dan perjuangan, kemerdekaan dan persamaan sosial yang menjadi motif dasar kekuatan Islam telah dipisahkan dari kekuasaan. Mahkota Damaskus menjadi mahkota keduniawian yang didasarkan kepentingan diri pribadi dan kebesaran keluarga, menggantikan pemerintahan spiritual dengan rasa tanggungjawab ilahiah. Ada satu orang yang bisa melawan arus. Dia adalah Imam Husain. Cucu Nabi ini, berbicara tanpa takut, karena takut adalah hal asing baginya. Tetapi hidup yang bersih dan tak ternoda ini dengan kesuciannya menjadi kehinaan bagi yang punya standar lain. Mereka berupaya membuatnya tutup mulut, tapi dia tidak tutup mulut. Mereka berusaha menyuapnya, tapi dia tidak bisa disuap. Mereka berupaya memperdaya dengan menawarkan kekuasaan. Lebih jauh lagi, mereka menginginkannya mengakui kekuasaan tiran dan mendukungnya. Karena mereka tahu bahwa nurani orang bisa bangkit suatu saat dan menyapu mereka, kecuali jika orang suci ini mendukung cara mereka. Orang suci ini lebih bersiap untuk mati daripada menyerahkan prinsip yang dibelanya.

Bergerak Dari Kota Ke Kota

Madinah merupakan pusat tempat Husain mengajar. Mereka membuat dia tidak dapat tinggal di Madinah. Dia meninggalkan Madinah dan pergi ke Mekah, berharap supaya tidak diganggu. Tetapi dia tetap diganggu. Kekuasaan Suriah menginvasi Mekah. Invasi ini ditentang, bukan oleh Husain, tapi oleh orang lain. Karena Husain, orang paling berani diantara yang berani, tidak punya tentara dan persenjataan. Keberadaannya sendiri sudah menjadi gangguan dimata lawannya. Hidupnya dalam bahaya, dan juga hidup orang-orang dekat dan kerabatnya. Dia punya banyak teman, tapi takut untuk bicara. Mereka tidak seberani Husain. Tapi jauh di Kufah, sekelompok orang berkata:”Kita merasa risih dengan keadaan ini, kita harus mengajak Imam Husain berlindung di tempat kita.” Jadi mereka mengirim orang dan mengundang Imam untuk meninggalkan Mekah, untuk datang ke mereka, tinggal di antara mereka, dan mendapatkan kehormatan untuk menjadi pengajar dan pembimbing. Ingatan kepada ayahnya masih lekat di Kufah. Gubernur Kufah bersikap bersahabat dan penuh hasrat untuk menerimanya. Kufah, 40 mil dari Karbala, adalah alasan dari Tragedi Karbala. Sementara Kufah sekarang memudar, Karbala tetap ada sebagai simbol kenangan abadi dari kesyahidan.

Undangan dari Kufah

Ketika undangan Kufah sampai ke Imam, beliau merenungkannya, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan, dan berkonsultasi dengan sahabat-sahabatnya. Dia mengirim sepupunya Muslim untuk mempelajari situasi langsung di tempatnya dan melaporkan kepadanya. Laporan hasil pengamatannya bagus, dan dia memutuskan untuk pergi. Dia tetap mencium adanya bahaya. Banyak sahabatnya di Mekah menganjurkan untuk membatalkannya. Tapi bisakah dia menggagalkan misinya ketika Kufah memanggilnya? Apakah dia seorang yang bisa dicegah, karena musuhnya telah berkomplot kepadanya, di Damaskus dan di Kufah? Setidaknya, dia disarankan untuk tidak mengajak keluarganya. Tetapi keluarga dan kerabat dekatnya tidak mau mendengar. Mereka adalah keluarga yang solid, terkenal karena kebersihan dari hidup mereka, kebaikan dan kasih sayang mereka. Jika kepala keluarga dalam bahaya, mereka akan membelanya. Imam tidak pergi hanya untuk acara kunjungan. Ada tanggungjawab yang diemban, dan mereka harus bersamanya untuk mendukungnya, tak perduli dengan resiko dan konsekwensi yang dihadapi. Kritik rendahan menganggap ada ambisi politik dari Imam. Tetapi apakah seorang dengan ambisi politik datang tanpa pasukan, melawan sesuatu yang disebut musuh negara, yang telah berniat jahat untuk menaklukannya dengan menggunakan seluruh kemampuannya dalam bidang politik, militer, politik dan finansial terhadapnya?

Perjalanan Melewati Gurun Pasir

Imam Husain meninggalkan Mekah ke Kufah dengan seluruh keluarganya termasuk anak-anaknya. Berita yang datang kemudian membingungkan. Gubernur, yang lebih ramah, telah digantikan dengan yang baru yang lebih kejam dan siap untuk melaksanakan rencana Yazid. Jika Husain jadi pergi, dia harus pergi dengan cepat atau teman-temannya dalam bahaya. Di pihak lain, Mekah sendiri tidak lebih aman untuk dia dan keluarganya. Saat itu bulan September dan tidak ada orang yang bepergian melewati gurun dengan panas seperti itu. Dalam tahun komariah, saat itu adalah bulan haji di Mekah. Tetapi dia tidak berhenti untuk berhaji. Dia jalan terus, dengan keluarga dan kerabatnya, dengan jumlah sekitar 90 sampai 100 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak. Mereka menempuh 900 mil melewati gurun pasir dalam waktu 3 minggu lebih. Ketika hampir sampai ke Kufah, di batas gurun, mereka bertemu dengan orang Kufah. Saat itulah terdengar berita pembunuhan Muslim, sepupu Husain, yang telah dikirim lebih dahulu. Seorang penyair melukiskan keadaan itu sebagai ”Kota yang hatinya bersamamu tapi pedangnya bersama lawanmu dan permasalahannya ada di tangan Tuhan” Apa yang harus dilakukannya? Mereka sudah melewati tiga minggu perjalanan meninggalkan Mekah. Di kota tujuan, utusan mereka telah dibunuh termasuk anaknya. Mereka tidak tahu situasi kota Kufah. Tetapi mereka memutuskan untuk tidak mengecewakan teman-temannya di Kufah.

Memilih Menyerah Atau Mati

Utusan dari Kufah datang, dan Imam diminta untuk menyerah. Imam Husain menawarkan tiga pilihan. Dia tidak menginginkan kekuasaan atau balas dendam. Dia berkata: ”Aku datang untuk membela orang-orangku. Jika aku terlambat, berikan aku tiga pilihan: Kembali ke Mekah atau menghadapi Yazid sendiri di Damaskus atau jika kehadiranku tidak kau atau dia sukai, aku tidak berniat menyebabkan perpecahan diantara kaum muslimin. Biarkan aku pergi ke tapal batas yang terjauh, jika pertempuran tak terelakkan, aku akan bertempur melawan musuh Islam.” Semua pilihan ini ditolak. Mereka hanya menginginkan untuk menghancurkan hidupnya, atau yang lebih baik, membuatnya menyerah, menyerah kepada kekuatan yang ditentangnya, untuk menyatakan ketaatan kepada mereka yang telah melanggar hukum Tuhan dan manusia, dan untuk mentoleransi semua penyalahgunaan yang merendahkan Islam. Sudah pasti dia tidak akan menyerah. Tapi apa yang harus dilakukannya ? Dia tidak punya pasukan. Dia punya alasan untuk percaya bahwa banyak kawannya dari tempat-tempat jauh akan mendatanginya, datang dan membelanya dengan pedang dan tubuhnya. Tapi waktu sangat penting, dan dia tidak akan mendapatkannya dengan berpura-pura tunduk. Dia berputar ke kiri sedikit, ke arah yang akan mengantarkannya ke Damaskus, tempat Yazid sendiri. Dia berkemah di dataran Karbala.

Pemutusan Sumber Air –Keinginan Teguh, Pengabdian dan Kekesatriaan

Selama sepuluh hari pesan-pesan dikirim bolak-balik antara Karbala dan Kufah. Kufah menginginkannya menyerah dan tunduk. Hal yang tidak bisa dikabulkan Imam. Setiap pilihan lainnya ditolak oleh Kufah, dibawah perintah Damaskus. Sepuluh hari itu adalah sepuluh hari pertama di bulan Muharam, tahun 61 Hijriah. Krisis terakhir terjadi pada hari ke sepuluh, Asyura, yang kita peringati sekarang. Selama tujuh hari pertama berbagai tekanan dialami Imam, tapi keinginannya tetap teguh. Ini bukanlah tentang pertempuran, karena cuma ada 70 laki-laki melawan 4000. Kelompok kecil ini dikelilingi dan dihina, tapi mereka tetap solid sehingga tidak bisa diganggu. Hari ke delapan sumber air di putus. Sungai Eufrat yang melimpah ada dalam jangkauan mata tapi dihalangi untuk mendapatkannya. Kepahlawanan pemuda ditunjukkan untuk memperoleh air. Tantangan bertempur satu lawan satu, sesuai tradisi Arab, ditawarkan. Lawan menjadi ciut, ketika orang-orangnya Imam berkelahi berani mati dan bisa merobohkan mereka. Pada malam hari ke sembilan, anak Imam yang masih kecil sakit. Dia menderita demam dan sangat kehausan. Mereka mencoba mendapatkan setetes air. Tapi ditolak mentah mentah dan kemudian memutuskan, daripada menyerah, bertarung sampai mati. Imam Husain menawarkan orang-orangnya untuk pergi. Dia berkata: ”Mereka mengincarku, keluargaku dan orang-orangku bisa kembali ke Mekah”. Tapi semua orang menolak untuk pergi. Mereka akan bertahan sampai akhir dan memang terjadi. Mereka bukan pengecut, mereka dilahirkan dan dibesarkan untuk bertempur, dan mereka bertempur seperti pahlawan, dengan pengabdian dan kekesatriaan.

Penderitaan Terakhir –Wajah Tenang Manusia Tuhan

Pada hari Asyura, hari kesepuluh, Imam Husain sendiriam dikelilingi musuhnya. Dengan penuh keberanian hingga saat akhir. Dia dengan kejam dibantai. Kepalanya yang suci dipenggal ketika shalat. Pesta kemenangan yang sangat biadab dirayakan di atas mayatnya. Pada saat kritis ini kita tahu rincian kejadian setiap jam. Dia menderita 45 luka dari pedang dan tombak musuh, dan 35 tusukan anak panah. Tangan kirinya dipotong, dan tombak menghujam dadanya. Setelah semua penderitaan ini, kepalanya dipancangkan di tombak, wajahnya penuh ketenangan sebagai manusia Tuhan. Semua laki-laki gagah dari kelompoknya dibunuh dan mayatnya terinjak-injak kaki kuda. Hanya satu laki-laki yang tersisa, Ali anak Husain, dengan panggilan Zainul Abidin – ”Perhiasan Ketaatan”. Dia tinggal dalam keterasingan, belajar, menafsirkan dan mengajarkan prinsip-prinsip ketinggian spiritual yang diperoleh dari ayahnya sepanjang hidupnya.

Kepahlawanan Wanita

Ada contoh keteladanan dari wanita. Dari Zainab saudara dari Imam, Sakina anak perempuan kecilnya dan Sharibanu, istrinya di Karbala. Bertumpuk literatur sastra Islam dipersembahkan, mengabadikan kejadian yang menyentuh hati ini. Bahkan dalam airmata dan dukacita mereka ada kepahlawanan. Mereka meratapkan tragedi itu dalam kesederhanaan, cinta kasih, dan sangat manusiawi. Tetapi mereka juga menyadari kemuliaan dari pengalaman yang dialami sendiri, tentang hidup dalam kebenaran mencapai puncaknya dengan mahkota kesyahidan. Salahsatu penyair terkenal yang mengungkap kejadian ini adalah penyair Urdu, yang tinggal di Lucknow, dan wafat di tahun 1874.

Pelajaran dari Tragedi

Telah dituturkan ceritanya dengan singkat. Apa yang dapat diambil sebagai pelajaran? Tentunya ada penderitaan fisik dalam kesyahidan, dan semua kesedihan dan penderitaan mendapatkan simpati kita, - simpati yang paling dalam, murni dan besar yang kita bisa berikan. Tetapi ada penderitaan yang lebih besar daripada penderitaan fisik. Itu adalah ketika jiwa yang penuh kegagahan bangun melawan dunia; ketika niat yang mulia dilecehkan dan diolok, ketika kebenaran menemui kebuntuan. Bahkan jika sepatah kata penyerahan, sedikit melonggarkan perlawanan, banyak penderitaan dan kesedihan bisa dielakkan; dan tetap kalimat yang hangat tetap dibisikkan: ”Pada akhirnya kebenaran tidak akan bisa musnah”. Ini sangatlah benar. Kebenaran abstrak tidak punah. Itu diluar nalar manusia. Tapi keseluruhan pertempuran dipersembahkan untuk manusia yang berpegang pada kebenaran. Dan hanya bisa dilakukan oleh manusia dengan keteladanan tinggi- perjuangan spiritual dan bertahan dalam penderitaan untuk keteguhan iman dan tujuan, kesabaran dan keberanian dimana orang biasa akan menyerah atau takluk, pengorbanan kepada tujuan kebenaran dengan mengabaikan konsekwensi yang ada. Para syahid menjadi saksi, dan berhasil, yang pada saat lain disebut kegagalan. Ini terjadi pada Husain. Karena semua orang menjadi tersentuh dengan kasyahidan Husain, dan itu menjadikan kematian politik kepada Damaskus dan semua prinsip-prinsip yang dianutnya. Muharam masih memberikan kekuatan untuk bersatu kepada semua mazhab Islam, dan juga memberikan pesona kekuatan kepada non-muslim.

Pencari Spiritual

Itulah, menurut saya, yang jadi nilai penting utama dari kesyahidan. Semua sejarah manusia menunjukkan semangat kemanusiaan bertahan dalam berbagai bentuk, mendapatkan kekuatan dan ketahanan dari banyak sumber. Tubuh kita, kekuatan fisik kita, telah berkembang dan berevolusi dari bentuk awal, setelah berbagai perjuangan dan kekalahan. Dunia intelektual kita punya cerita kesyahidan sendiri dan para pencari agung intelektual sering pergi dengan semangat kesyahidan. Semua penghormatan untuk mereka. Tetapi kehormatan tertinggi harus dialamatkan kepada para pencari agung dalam spiritualitas, mereka yang menghadapi hal yang menakutkan dan menolak takluk kepada kejahatan. Daripada membiarkan kehinaan dikaitkan dengan kesucian, mereka membayar dengan hidupnya sebagai akibat dari perlawanan. Bentuk pertama perlawanan yang dilakukan Imam adalah ketika dia berjalan dari kota ke kota, diburu dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi tetap tidak berkompromi dengan kejahatan. Kemudian datang pilihan efektif tetapi berbahaya, untuk membersihkan rumah Tuhan, atau hidup penuh kemudahan untuk diri sendiri yang secara tidak langsung akan mengorbankan kawan-kawan seperjuangannya. Dia memilih jalan yang berbahaya dengan pengabdian dan kehormatan, dan tidak goyah menyerahkan nyawanya dan dengan penuh keberanian. Kisahnya memurnikan perasaan kita. Kita memberikan penghormatan terbaik kepadanya dengan menerima pelajaran keberanian dan keteguhan.

Lanskap Kultural Banten


Kabar Banten, 12 September 2013

“Apa yang kita sebut Banten adalah ketika yang Jawa, yang Sunda, dan yang Melayu berpadu. Banten adalah sebuah miniatur multikultur.”

Kebudayaan bukanlah semata entitas dan unsur sampingan, tapi merupakan “pembentuk” siapa dan “apa” masyarakat itu sendiri. Dalam konteks ini, kita dapat mengatakan bahwa “kebudayaan Banten” merupakan “jiwa sejarah” Banten yang terbukti tetap lestari, meski di tengah kontestasi dan pergesekan “dunia kapitalisme” mutakhir yang cepat dan sulit dihindari seperti sekarang ini. Hingga dapatlah dikatakan, masyarakat dan bangsa yang tidak memiliki sastra, seni, dan budaya adalah masyarakat dan bangsa yang tak memiliki jiwa.

Definisi dan Koherensi

Ada banyak definisi dan pengertian kebudayaan, yang dengan beberapa definisi dan pengertian tersebut, setidak-tidaknya kita akan dapat mengidentifikasi segala produk dan jenis kebudayaan itu sendiri. Contoh definisi dan pengertian kebudayaan itu, misalnya, mengatakan kebudayaan merupakan suatu “proses” perkembangan yang sifatnya intelektual, estetis, dan bahkan spiritual. Sementara itu, secara etnografis dan antropologis, kebudayaan dapat dipahami sebagai pandangan hidup dari suatu masyarakat tertentu. Sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa kebudayaan adalah juga karya dan praktik-praktik intelektual yang sifatnya literer dan artistik.

Meskipun demikian, kebudayaan itu sendiri bila kita memahaminya sebagai sebuah proses dan kreativitas, bisa menjadi berkembang, bertahan, atau hilang ketika berhadapan dengan situasi baru atau perkembangan jaman, di mana kemajuan tekhnologi dan percepatan ekonomi kapitalisme saat ini, sebagai contohnya, telah menggantikan dan menggusur praktik-praktik dan bahkan norma-norma yang pernah dianut dan dipercayai oleh masyarakat. Jika demikian, maka apa yang akan kita sebut kebudayaan sebenarnya juga tidak dapat dilepaskan sebagai medan atau arena pertarungan kreativitas dan perkembangan intelektual itu sendiri.

Seperti telah sama-sama kita tahu, banyak sekali bentuk-bentuk dan jenis-jenis kebudayaan masyarakat yang pernah ada, saat ini telah hilang, atau tak lagi dipercayai dan dipraktikkan oleh masyarakat yang pernah mempercayainya, mempraktikkannya, dan memproduksinya karena faktor pergesekan dan pertarungan dengan perkembangan politis, ekonomis, dan sosiologis masyarakat sekarang yang harus diakui mengalami gempuran setiap hari, yang seakan tanpa jeda, dari hiruk-pikuk apa yang lazim disebut sebagai jaman kapitalisme mutakhir saat ini.

Akan tetapi, beberapa waktu belakangan ini, yang oleh beberapa pemikir dan pemerhati kebudayaan mengganggapnya merupakan bentuk encounter dan arah-balik pencaharian dahaga spiritual akibat kejenuhan, untuk tidak mengatakan sebagai kekeringan spiritual, masyarakat modern, yang bersama-sama gerakan ekologis, berusaha menggali dan menghidupkan kembali kearifan-kearifan lokal, yang sebagiannya masih ada di saat kebanyakannya sebenarnya telah menghilang alias tak lagi dipercaya, dipraktikkan atau pun diproduksi. Tak terkecuali untuk kasus Banten, yang secara historis merupakan tempat hidupnya sejumlah kebudayaan kuno yang pernah ada.

Sebagai kompleks wawasan, praktik, dan produk intelektual, E.B. Taylor, misalnya, mendefinisikan kebudayaan sebagai kesuluruhan pengetahuan, seni, hukum, adat-istiadat, norma keyakinan, dan juga kebiasaan atau custom yang hidup, ada, dianut, dan dipraktikan oleh suatu masyarakat atau komunitas kebudayaan.

Tidak jauh berbeda dengan artian kebudayaan yang dikemukakan E.B. Taylor tersebut, para pemikir dan penulis Culture Studies, semisal Raymond Williams dan Chris Barker, untuk menyebut dua contoh lainnya, memandang dan memahami kebudayaan sebagai sesuatu atau hal-hal yang dihidupi, sejenis living culture, dalam kehidupan sehari-hari alias keseharian masyarakat itu sendiri. Meskipun Raymond Williams dan Chris Barker dikenal sebagai pemikir dan penulis Cultural Studies, namun definisi kebudayaan yang mereka ajukan tersebut masih tergolong arti kebudayaan dalam ranah dan pengertian antropologis seperti yang dikemukakan E.B. Taylor. Di mana kebudayaan merupakan kompleks wawasan dan praktik yang di dalamnya juga mencakup produk-produk benda atau materi, norma, dan simbol-simbol yang ada dan dihidupi oleh sebuah atau suatu masyarakat.

Tilikan Historis dan Arkeologis

Selain definisi dan identifikasi kebudayaan seperti yang telah dikemukakan E.B. Taylor, Raymond Williams, dan Chris Barker yang berwawasan sosiologis dan antropologis itu, hal lain yang juga penting untuk mengidentifikasi kebudayaan Banten adalah sejarah, dan juga arkeologi budaya, Banten itu sendiri. Dari sudut pandang dan pendekatan historis yang sifatnya kronik ini, contohnya, kita dapat melacak lahir, tumbuh, dan keberadaan kebudayaan Banten dalam perjalanan sejarah masyarakat Banten, seperti kebudayaan yang berkaitan dengan aspek sejarah keagamaan yang di dalamnya mencakup ritual, peninggalan benda-benda keagamaan dan arsitektur, sebagai contohnya, dari mulai pra-sejarah Banten, era Hindu-Budha, hingga datangnya Islam.

Secara historis, dan ini sekedar sebagai sekilas ilustrasi sejarah, ada sejumlah kesenian yang dihidupi dan dipraktikkan masyarakat Banten masa silam ketika itu, alias sebagai living culture, sebagai ragam kepercayaan, semisal perayaan ketika masyarakat Banten melakukan festival penyambutan Maulana Hasanuddin sekembalinya dari Cirebon dan Demak ke Banten sebagaimana yang dikisahkan dalam Hikayat Maulana Hasanudin. Atau ketika mereka merayakan telah dibangunnya kotaraja atau ibukota Kerajaan Islam Banten yang baru di Banten Pesisir, setelah sebelumnya beribukota di Banten Girang ketika Islam yang dibawa Maulana Hasanuddin dan Ki Santri telah diterima oleh sejumlah lapisan masyarakat Banten Girang.

Dalam hikayat itu diceritakan bagaimana rakyat mementaskan kendang pencak silat, calung rengkong, tetabuhan lesung, hingga menabuh rebana oleh sekelompok penabuh sembari diiringi dendang sholawat ketika mereka mengadakan perayaan, seperti ketika mereka menyambut kepulangan dan kembalinya Maulana Hasanuddin ke Banten, setelah Maulana Hasanuddin menjadi salah-seorang senopati Kesultanan Demak demi menghadapi serangan ribuan pasukan Majapahit yang belum masuk Islam ketika itu.

Kebudayaan Banten Sebagai Khazanah Keagamaan

Jika kebudayaan memang sekompleks wawasan dan kepercayaan yang koheren seperti yang dikemukakan E.B. Taylor itu, maka dapatlah dikatakan beberapa kesenian masyarakat Banten lahir dan berkembang bersama-sama dengan wawasan religius dan atau praktik-praktik dan kepercayaan keagamaan yang dianut masyarakat Banten, dari semenjak era pra-Islam hingga ketika Banten menganut agama Islam. Di masa-masa era Islam, alias di jaman panjang Kesultanan Banten, beberapa kesenian Banten tersebut bahkan khusus dipentaskan hanya untuk kalangan istana atau bagi keluarga sultan Banten, seperti ketika mereka menyambut dan menjamu tamu-tamu asing dari Eropa dan dari Negara-negara lainnya, semisal gamelan dan tayuban.

Rupa-rupanya, bila kita mencermati kebudayaan dari segi tilikan historis dan yang sifatnya kronik ini, kebudayaan Banten sedikit-banyaknya memang lahir, berkembang, dipraktikkan, dan “didasarkan” pada wawasan keagamaan, selain karena memang lahir dan bersumber dari kearifan-kearifan lokal-asli masyarakat Banten. Di sinilah, jika kebudayaan juga dipahami sebagai kreativitas, kebudayaan masyarakat Banten dapat dikatakan sebagai bertemu dan berpadunya “kebudayaan lokal” masyarakat Banten itu sendiri dengan pengaruh-pengaruh wawasan keagamaan yang kemudian datang dan memperkaya alias melengkapinya, jika tidak dibilang turut juga merubah bentuk dan makna kebudayaan masyarakat Banten itu sendiri.

Secara historis pula, Banten bahkan bisa dikatakan sebagai “Negeri Terminal Sejarah Interaksi” sejumlah jenis, bentuk atau ragam kebudayaan dan keagamaan, bila kita meminjam istilahnya Denys Lombard dan Henri Chambert-Loir. Di mana dalam sejarahnya yang panjang, Banten memang telah menjadi semacam “jalur persinggahan” alias Carrefour beragam pengaruh keagamaan dan kebudayaan dalam skala sejarah Nusantara, ketika pengaruh kebudayaan India, Cina, dan kemudian Islam kemudian hadir dan bertemu, entah kemudian saling-melengkapi atau mengalami “kontestasi”. Dalam hal ini, bukti yang paling nyata adalah sejumlah peninggalan benda dan arsitektur Kesultanan Banten, yang mencerminkan bentuk dan ekspressi simbolik yang sifatnya multikultur alias “ragam jejak kebudayaan”, semisal era pra-Islam, Cina, dan Eropa.

Tak hanya dalam arsitektur dan benda-benda, sejumlah kesenian tradisional dan kesenian keagamaan masyarakat Banten juga menunjukkan jejak-pengaruh ragam-budaya tersebut, entah kemudian saling-melengkapi atau mengalami “kontestasi”, yang pastilah mencerminkan kreativitas kebudayaan masyarakat Banten itu sendiri. Secara historis, sebagaimana yang dikemukakan banyak sejarawan dan arkeolog, Banten adalah “negeri” dan “masyarakat” yang tua, yang memiliki sejarah yang panjang, yang pastilah juga menyangkut kebudayaannya, bila kebudayaan lahir, ada, dan berkembangnya sebuah kebudayaan juga dipahami sebagai “interaksi historis-kultural” seperti yang dikatakan Denys Lombard dan Henri Chambert-Loir itu.

Di Banten, sebagaimana dikemukakan para sejarawan dan arkeolog, “yang Sunda”, “yang Jawa”, dan “yang Melayu” bertemu dan berpadu, yang kemudian membentuk sejarah, identitas, dan budaya Banten itu sendiri. Hingga apa yang kita sebut Banten, demikian ujar Claude Guillot, adalah ketiganya sekaligus. Meskipun tentu saja, secara historis pula, tentulah masih dapat dilacak dan dikaji unsur-unsur lokal Banten sebelum Islam menjadi wawasan dan lanskap dominan kepercayaan dan juga “wawasan kebudayaan” masyarakat Banten, yang dalam sejarahnya memang telah mengalami pembauran alias akulturasi yang saling melengkapi dan memperkaya antara warisan “lokal pra-Islam” dengan unsur-unsur Islam, semisal dalam seni tradisi, adat, kesusastraan, arsitektur, dan yang lainnya yang banyak jumlahnya.

Sulaiman Djaya